Kamis, 15 September 2011

Sabit-Sabit Harapan pada Bulatan Kedelapan

Tahukah kau, duhai purnama? Sungguh aku tak paham cara menerjemahkan rasaperasaanku sendiri kepada diriku sendiri apalagi kepadamu, kepadanya, juga kepada mereka. Apakah cinta yang terbit di ufuk hatiku sudah merupa purnama sepertimu? Sekali lagi kukatakan padamu, duhai wajah bulat penerang paras malam, aku tak mengerti makna hakiki di balik remang pancaran rasaperasaanku sendiri, terlebih segalaku kini tengah berada di ambang kebimbangan bersebab gelap merintangi pandang batinku yang terterpa gerhana asa. Karena itu kukatakan padamu, duhai wajah bening yang berpendar di telaga hatiku, bahwa aku lagi-lagi hanya bisa menerka-nerka makna rasa yang tersisa di antara batang-batang asa yang terus coba kunyalakan lagi bersama lilin-lilin kerinduan di kegelapan angan. Barangkali cintaku masih berjalan pada haluan yang sama. Masih mengalir dan bermuara pada muara yang sama. Yaitu padaNya dan padanya. Pada Yang Maha Bercahaya dan pada yang wajah hatinya berbinar bak mawar diguyur embun fajar. Meski ku tahu bahwa aku—hingga kini—tak jarang berbuat curang padaNya juga padanya dengan tidak membalas sepadan kecintaan keduanya padaku yang kikir bertakbir dan picik pikir. Ighfir li ya Robbi. Wa al-afwu ya azizi. Semoga Engkau mengampunkan segala dosaku. Dan engkau memaafkan segenap khilafku. Amiiin…

Tak terasa namun berasa, dengan izinNya, kini aku dan dia—yang separuh ruhnya bersemayam di hatiku— telah melintasi beberapa samudera prahara demi meraba indah wajah purnama. Dan dengan restuNya, kini aku dan dia—yang kelembutan hatinya melebihi helaian kain sutera— terus melangkah tanpa lelah hingga menepi di bulatan ke enam yang berlinang tinta hitam. Meski begitu, dengan tertatih dan penuh rintih, akhirnya rasa ini kembali jernih. Harapku ia kan menjelma putih. Bak kelopak melati. Berbinar. Laksana paras mawar. Semoga saja.

Selang beberapa waktu, titik-titik detik pun terlampaui. Hari pun berganti hari. Silih berganti matahari dan rembulan menyerahkan kedudukan. Sampailah perjalanan jalinan cintaku dengannya—ia yang ketulusan dan kesabarannya tak kunjung kering dilumat musim kemarau— pada bulatan ketujuh yang berlumpur keruh dan penuh kisruh. Walau demikian, cinta ini belumlah kiamat karena ia selamat dari keruntuhan berkat rahmatNya yang tak berkesudahan. Harapku di purnama selanjutnya, kekeruhan luruh. Kisruh mewujud kismis—yang manisnya takkan habis dikikis empedu— saban waktu. (Huahahahahaha…Prikitiwww…Maaf yawww menggombal dikit boleh kan???)

Kau tahu, duhai wajah bulat bercahaya surgawi?, saat jemariku sampai di paragraf ini, senyumku mengembang bersama goyangan ilalang di pekarangan belakang rumah ini. (Hehehehe… Manis mana senyumku dibanding madu ya? Xixixixixixi…). Dan satu lagi meski –seandainya— kau tak mau tahu, tetap ingin kuberitahumu—duhai penerang ruang sanubariku—bahwa kembang senyumku kini melayang terbang, terbawa hembusan nafas rinduku yang mengudara dan hinggap di kelopak jiwamu. Apakah kau merasakannya, duhai jiwa beraura nirwana? Tak hanya itu, bahkan kali ini, kala jemariku menepi di barisan ini, tawaku pun pecah. Menyayat sunyi yang kian membuncah dan hendak tumpah-ruah banjiri kawah jiwaku yang kerontang bersebab sekian lama tak diguyur hujan batu, eits salah ketik, maaf, maksudku hujan canda bersalju tawa (Huahahahahaha…awas telapak hatimu menginjak senyumku, nanti bisa deras mengucur darah segar tuch dari jantungmu, gassswaaatttt urusannya tuch… awas…!!! Huahahahaha…).

Hmmmm…Zzzzzz…  Saking keasyikan tersenyum-senyum dan tertawa-tawa sendiri umpama pasien Rumah Sakit Jiwa, sampai terantuk bibirku dan mengantuk mataku… Hmmmm…Zzzzzz… Eits, tapi belum saatnya merebah diri di kasur empukku, karena kelana hatiku belumlah sampai pada tujuan, yaitu bulatan kedelapan. Bulatan yang kuharapkan semakin bertambah rupawan. Menawan. Mudah-mudahan. Meski kali ini Tuhan belum menghendaki kita tuk mengulangi lagi kebersamaan ragawi, namun do’aku tak berhenti sampai di sini, tuk memohon padaNya agar kiranya Dia meridhai selalu jalannya jalinan cinta ini bersama arus waktu yang terus mengalir pada muara hakiki. Seirama alunan tembang bahagia Jagad Raya hingga akhir masa. Amiiiiin…

Created by Em Je on Thursday, September 15, 2011 at 5:47pm



Tidak ada komentar:

Posting Komentar