Selasa, 18 Februari 2014

Pelayaran Hati

Sepanjang pelayaran, entah berapa kali hati ini karam. Tak jarang, kegelapan nyalakan keraguan. Tak terhitung, berapa palung menampung surga dan neraka yang kubangun di altar kembara cinta. Tak terbilang berapa kali sisa tenaga ini memunguti puing-puing gemintang yang menyerak dihempas napas waktu. Namun, usah kau sesaki dadamu dengan tunas-tunas cemas. Karena aku--dengan segala mimpi arasyku--akan tetap tegap menghadapi badai prahara yang coba-coba olengkan perahu merah jambuku!!! Doakan aku, semua isi Semesta, semoga perjalanan ini segera menemukan tepiannya!!! 


Senin, 03 Februari 2014

Who Are You?



        Belakangan ini, kau sering buatku kecewa dengan tingkahmu yang kian hari kian bertengger di atas angin. Kau selalu merasa dirimulah yang paling benar. Semua kehendak dan hasratmu senantiasa menguasai bumi dan langit cinta kita. Dengan kata lain, kau tak pernah mau mengalah dengan menurunkan satu anak tangga saja egomu yang menyentuh langit ketujuh. Kau selalu menganggapku anak ingusan yang daya pikirnya masih polos dan lugu, yang selalu harus kau pandu dalam melaju. Kacamatamu selalu memandangku dengan tatapan semu. Jika sedikit saja aku tak mengiyakan maumu, kau bilang aku meremehkanmu, tanpa mau peduli bila keadaan serupa kubalikkan lagi padamu. Sungguh, aku muak dengan keadaan timpang seperti ini. Ditambah, akhir-akhir ini kau selalu acuh dengan segala apa yang kumau darimu. Padahal pintaku bukanlah permohonan yang terlalu merugikanmu. Aku minta 5x2 menit dalam tiap 24 jam yang kau miliki pun, tak kau penuhi, dengan alasan kesibukanmu yang tak kepalang. Aku minta dibuatkan puisi khusus untukku juga tak kau hiraukan. Padahal, aku menginginkannya bukan karena aku haus kemesraan dan buaian seorang pangeran. Melainkan aku hanya ingin mengasah jemari hatiku agar lebih tajam, berharap aku mampu menebas segala pohon kemungkaran dengan tangkasnya pena imaji. Apakah aku berlebihan dengan pintaku yang demikian? Jawablah, duhai kandidat penghuni abadi surga hatiku! Jawablah!
        Sungguh, aku tak pernah berhenti berusaha mengenalmu lebih intim lagi, agar aku benar-benar mengenal keutuhanmu. Karena kau telah kuanggap someone excellent pembangkit semangatku yang nyaris redup diembus angin keputusasaan. Aku berusaha mengubah diri menjadi lebih baik, lebih tangguh, lebih bermanfaat bagi banyak orang. Sebagaimana yang kau tiupkan di telinga jiwaku. Kau masih ingat kan, Sayang? Bahwa mataku pernah gerimis karena hatiku teriris kegelisahan yang diantar hujan keraguan tentangmu yang kala itu tak kunjung menoleh ketika berulangkali aku menyapamu dengan seutuh rindu yang biru. Kala itu dadaku sesak melebihi orang yang sakit asma. Dan kau bertanya ada apa, kenapa aku terisak? Dan bibirku tak kuasa menyampaikan pesan kegundahan dari lubuk kalbu yang pilu, bersebab paru-paruku saat itu seperti tersendat oleh milyaran malaikat pencabut nyawa (walau kutahu bahwa malaikat pencabut nyawa itu hanya satu: Izrail).

Tanpa Judul


     

        Pukul 20.31 WIB. Entah apa yang ingin kutulis. Aku tidak tahu. Yang kutahu, benakku dipenuhi potongan-potongan wajahmu yang terbingkai dalam figura maya. Di situ, senyummu terkembang, meski nampak sedikit tertahan. Sekuntum senyum yang ramah, penuh ketulusan. Selalu menghantui siang-malamku. Mengiringiku kala kuterjaga. Rasuki ketermanguanku dalam dekapan kesunyian malam. Mengintimi segalaku di peraduan mimpi bertabur bunga nirvana. Senyum itu telah menikahi jiwaku.
        Pukul 20.51 WIB. Aku masih belum tahu, apa yang ingin kuuntai. Yang kutahu, kini, merdu suaramu kembali terngiang. Suaramu yang mampu menembus kedalamanku. Merobek-robek kegelisahanku. Mengoyak lembaran suram masa silamku. Membentangkan merah-putih di jagat sukmaku. Suara itu telah menjelma kantata cinta yang selalu mengalun, syahdu. Mendamaikan hidupku. Tenteramkan gemuruh di hamparan hijau-biru.
        Pukul 21.11 WIB. Kini, aku sudah tahu apa yang ingin kurajut. Aku ingin merajut benang-benang rasaku menjadi kain cinta, untuk membusanai tubuh-tubuh dunia, agar  nampak indah, berkharisma. Agar semua kelopak mata bermekaran, kuntum-kuntum senyum merekah ruah, dan semua oksigen kehidupan meresap jauh ke dalam sukma.
        Pukul 21.31 WIB. Kembali padamu, makhluk maya yang nyata di alam sastra. Ragamu memang masih disamarkan bentang jarak, namun, sebagaimana kita rasakan beberapa pekan ini, jiwa kita begitu intim dalam selimut kata-kata.
Bersambung…

Harus Kumulai Dari Mana?



Aku ingin menjadi seorang penulis, tapi aku selalu bingung kapan dan di mana aku harus memulainya? Apa kau punya jawabnya atas tanyaku itu? Nah, lo? Ikutan bingung juga kan, lo? Huahahaha… Ya sudah, kalau begitu sebelum semuanya kumulai, mari kita berbingung-bingung ria terlebih dahulu sembari menonton Anak-Anak Manusia. Kan lumayan bisa sedikit melenturkan otot dan otak dengan menyimak tingkah laku Si Ncun yang super duper polos dan lugu, gampang dikadalin oleh Si Mardhani, sang suami Ncun yang punya seribu akal jail menggelikan tapi selalu gagal menuai kesuksesan atas segala siasat sinting yang ia jalankan dengan salah kaprah, yang menjadikannya selalu menelan bulat-bulat pribahasa “Senjata Makan Tuan”. Huahahaha…
        Waduuuhhh… Kok, tetap belum nemplok di kepala ya segerombolan ide dan gagasan yang gemilang untuk kutuangkan ke dalam cawan imaji. Gimana ini? Kamu punya solusi? Hmmm… Sepertinya kepala kamu juga lagi kepentok Si Komo ya? Yaaa, gimana donk ini urusan Sang Calon Penulis Cantik yang Unyu-Unyu kalau semuanya masih tersesat di Gang Buntu No.10? Mungkin sebaiknya kita singgah sejenak di gang ini, sembari menghirup sejuknya semilir angin malam yang merebakkan sejuta aroma sastra di seantero taman khayalan yang telah sekian lama tak terjamah bibir hujan. Hehehe… Ya sudah dech, sekarang aku mau rehat dulu ya, kamu juga donk, ya? Biar esok, kita sama-sama kembali membuka hari dengan seribu kunci ajaib pemberian Dora Emon, tuk bisa mengeluarkan segerombolan imaji yang berserak di relung benak. Mari berdoa, semoga semua niat dan hasrat suci kita berbuah kenyataan yang membahagiakan. Amin ya robbal alamin…







Cemburu yang Ambigu


Menyaksikanmu dalam lingkaran pesona mawar mekar
Jadikan malamku berlinang nestapa
Hanyutkan seutuh jiwaku dalam kubangan rasa cemburu yang ambigu































Selamat Datang, Ponakan Baru



        Selamat datang di Rahim Semesta, duhai ponakan baruku yang cantik, mungil, nggemesin, dan tahukah kau, sayang, menurut banyak mata, wajahmu saat ini mewarisi wajah om kamu (Iwan) sewaktu ia masih merah sepertimu.
        Kelahiranmu di dunia yang penuh warna ini merekahkan banyak kuntum senyum kebahagiaan di bibir-bibir orang-orang di sekelilingmu, terutama kedua orang tuamu, kedua kakakmu, dan juga kami keluarga besarmu, termasuk aku—tantemu yang unyu-unyu ini—Hehehe… Dan perlu kau tahu, duhai gadis kecil yang terpilih memecahkan tangis pertama beriringan kumandang adzan Isya menggema  di 20-10-2013, betapa hadirmu menderaikan gerimis tahmid di banyak relung jiwa sebagai wujud rasa syukur yang tak terkira.
        Tante doakan semoga kamu menjadi anak yang salehah, sehat selalu lahir-batin, cerdas, sukses, dan bahagia dunia-akhirat. Amin…ya robbal alamin. Sekali lagi, selamat datang, ya ponakanku sayang… Cepet gede ya, I LOVE YOU…