Aku tak pernah menyembunyikan rasa perasaanku dari hati kecilku yang paling jujur. Tiap kali hatiku merinaikan gerimis bahagia pun nestapa, ia selalu jujur menyampaikannya pada Semesta. Bila kau ingin kejujuran tentang segala isi hatiku, maka tanyakanlah pada hatiku, jangan bibirku, karena bibirku kadangkala memuntahkan dusta. Dan muntahan dustaku kerapkali torehkan bercak luka di hati siapapun yang terkena percikannya. Ramahlah pada hatiku bila kau ingin tahu tentang seisinya. Tak usah kau memaksa agar aku menyingkap segenap tabir rasaku pada waktu yang kau tentukan sendiri, biarlah kejujuran hatiku mengalir dengan derasnya tanpa tiupan angin pemaksaan. Suatu saat kau akan mengerti bahwa aku begini begitu, asalkan kau mau menunggu titah hatiku tanpa batas waktu....
Minggu, 12 Oktober 2014
Hidup Tanpa Rasa Nyaman
Saat aku kehilangan rasa nyamanku untuk hidup merdeka dari segala batas yang dicipta orang lain untuk merintangi dinamika pikirku, saat itulah aku dan segalaku merasa seperti hidup tanpa cahaya yang berikan segala rupa warna keindahan. Tanpa rasa nyaman, aku bagaikan hidup di bentangan gurun kegelapan yang mengerikan. Ketiadaan rasa nyaman lumpuhkan gairah diri untuk melangkah, menyongsong hari bertabur pelangi. Benarkah aku telah kehilangan rasa nyamanku? Jika benar, lantas di manakah kembali aku bisa menemukan rasa nyamanku yang hilang itu? Wahai sebelah diri yang berpeluk malaikat rahmat, dekaplah sebelah dirimu yang lain nan rebah dalam buaian anak buah iblis yang penuh muslihat, tiupkan angin segar di paru-paru waktunya yang terkontaminasi aroma derita nan menyiksa, aliri jantung masanya dengan merah darah cinta yang hidupkan hidupnya bertabur kelopak bahagia, agar kau dan seutuh dirimu benar-benar merasakan kembali betapa cantiknya paras dunia bersimbah rekah harum surga...
Langganan:
Komentar (Atom)