Minggu, 12 Oktober 2014

Aku Tak Pernah Dustai Hati Kecilku

Aku tak pernah menyembunyikan rasa perasaanku dari hati kecilku yang paling jujur. Tiap kali hatiku merinaikan gerimis bahagia pun nestapa, ia selalu jujur menyampaikannya pada Semesta. Bila kau ingin kejujuran tentang segala isi hatiku, maka tanyakanlah pada hatiku, jangan bibirku, karena bibirku kadangkala memuntahkan dusta. Dan muntahan dustaku kerapkali torehkan bercak luka di hati siapapun yang terkena percikannya. Ramahlah pada hatiku bila kau ingin tahu tentang seisinya. Tak usah kau memaksa agar aku menyingkap segenap tabir rasaku pada waktu yang kau tentukan sendiri, biarlah kejujuran hatiku mengalir dengan derasnya tanpa tiupan angin pemaksaan. Suatu saat kau akan mengerti bahwa aku begini begitu, asalkan kau mau menunggu titah hatiku tanpa batas waktu....

Hidup Tanpa Rasa Nyaman

Saat aku kehilangan rasa nyamanku untuk hidup merdeka dari segala batas yang dicipta orang lain untuk merintangi dinamika pikirku, saat itulah aku dan segalaku merasa seperti hidup tanpa cahaya yang berikan segala rupa warna keindahan. Tanpa rasa nyaman, aku bagaikan hidup di bentangan gurun kegelapan yang mengerikan. Ketiadaan rasa nyaman lumpuhkan gairah diri untuk melangkah, menyongsong hari bertabur pelangi. Benarkah aku telah kehilangan rasa nyamanku? Jika benar, lantas di manakah kembali aku bisa menemukan rasa nyamanku yang hilang itu? Wahai sebelah diri yang berpeluk malaikat rahmat, dekaplah sebelah dirimu yang lain nan rebah dalam buaian anak buah iblis yang penuh muslihat, tiupkan angin segar di paru-paru waktunya yang terkontaminasi aroma derita nan menyiksa, aliri jantung masanya dengan merah darah cinta yang hidupkan hidupnya bertabur kelopak bahagia, agar kau dan seutuh dirimu benar-benar merasakan kembali betapa cantiknya paras dunia bersimbah rekah harum surga...

Selasa, 30 September 2014

Senyum Sebelum April

Di manakah senyumku yang dulu pernah mekar
sebelum April melingkar
merenggut sehatku di pucuk pilu
memagut ceriaku di hamparan dilema yang hampa cahaya
sungguh, aku merindu
pada senyumku sendiri yang unyu-unyu
sungguh, aku ingin senyumku yang layu kembali rekah mewangi
cerahkan, harumkan tiap detik yang membariskan hari-hari
duhai senyum, kembalilah padaku
mekarkan bahagiaku
harumkan hidupku...

Minggu, 13 April 2014

Senyummu Di Daun Kenangku

Matahari sudah bertengger di ubun-ubun
namun senyummu masih mengembun
di daun kenangku yang rimbun

Ilalang

Akulah ilalang liar
yang debar di gurun kesunyian
mencari letak bibir hujan
bibir kesuburan yang mekarkan sekuntum mawar kebahagiaan
di pucuk azam yang ranumkan siang-malam

Kamis, 27 Maret 2014

Di Atas Kelopak Pagi

Menatap tetes-tetes embun di atas kelopak pagi yang menderaikan kesejukan ke cawan hati sembari membenamkan ingatan pada tanah sejuta kenang yang menumbuhkan bunga-bunga kerinduan, bunga-bunga yang mekarkan kuncup-kuncup kebahagiaan; mawar-mawar surgawi nan rekah mewangi di pucuk sunyi yang mengalunkan nyanyian langit, nyanyian kemenangan yang menasbihkan kesucian Yang Maha, menahmidkan keagungan Yang Maha, dan menakbirkan kebesaran Yang Maha sebagai gerimis syukur atas linangan hujan cinta yang tumpah-ruah dari ketinggian-Nya.

Doa Langit

Doa langit tumpah ruah
memecah resah yang rebah
di atas sajadah mahabbah

*Malam Jumat yang berlinang rahmat dan anugerah...

Kedekatan Batin dan Keintiman Rasa

Kedekatan batin tak bisa diukur dengan jarak fisik. Dan keintiman rasa perasaan tak bisa ditentukan oleh seberapa lama dua jiwa saling menyalami dan menyelami diri masing-masing. Semakin dalam dua napas tenggelam dalam palung pengertian, semakin karam jantung kerinduan mengendap dalam kedalaman terdalam.

Keblinger vs Waras

Orang-orang cerdas yang keblinger, tingkah dan tuturnya angker-angker, menohok ulu hati. Berbeda dengan orang-orang cerdas yang waras, perangai dan ucapannya laras, mendamaikan sanubari.