Hmmm,,,
Minggu, 28 Desember 2014
Minggu, 12 Oktober 2014
Aku Tak Pernah Dustai Hati Kecilku
Aku tak pernah menyembunyikan rasa perasaanku dari hati kecilku yang paling jujur. Tiap kali hatiku merinaikan gerimis bahagia pun nestapa, ia selalu jujur menyampaikannya pada Semesta. Bila kau ingin kejujuran tentang segala isi hatiku, maka tanyakanlah pada hatiku, jangan bibirku, karena bibirku kadangkala memuntahkan dusta. Dan muntahan dustaku kerapkali torehkan bercak luka di hati siapapun yang terkena percikannya. Ramahlah pada hatiku bila kau ingin tahu tentang seisinya. Tak usah kau memaksa agar aku menyingkap segenap tabir rasaku pada waktu yang kau tentukan sendiri, biarlah kejujuran hatiku mengalir dengan derasnya tanpa tiupan angin pemaksaan. Suatu saat kau akan mengerti bahwa aku begini begitu, asalkan kau mau menunggu titah hatiku tanpa batas waktu....
Hidup Tanpa Rasa Nyaman
Saat aku kehilangan rasa nyamanku untuk hidup merdeka dari segala batas yang dicipta orang lain untuk merintangi dinamika pikirku, saat itulah aku dan segalaku merasa seperti hidup tanpa cahaya yang berikan segala rupa warna keindahan. Tanpa rasa nyaman, aku bagaikan hidup di bentangan gurun kegelapan yang mengerikan. Ketiadaan rasa nyaman lumpuhkan gairah diri untuk melangkah, menyongsong hari bertabur pelangi. Benarkah aku telah kehilangan rasa nyamanku? Jika benar, lantas di manakah kembali aku bisa menemukan rasa nyamanku yang hilang itu? Wahai sebelah diri yang berpeluk malaikat rahmat, dekaplah sebelah dirimu yang lain nan rebah dalam buaian anak buah iblis yang penuh muslihat, tiupkan angin segar di paru-paru waktunya yang terkontaminasi aroma derita nan menyiksa, aliri jantung masanya dengan merah darah cinta yang hidupkan hidupnya bertabur kelopak bahagia, agar kau dan seutuh dirimu benar-benar merasakan kembali betapa cantiknya paras dunia bersimbah rekah harum surga...
Selasa, 30 September 2014
Senyum Sebelum April
Di manakah senyumku yang dulu pernah mekar
sebelum April melingkar
merenggut sehatku di pucuk pilu
memagut ceriaku di hamparan dilema yang hampa cahaya
sungguh, aku merindu
pada senyumku sendiri yang unyu-unyu
sungguh, aku ingin senyumku yang layu kembali rekah mewangi
cerahkan, harumkan tiap detik yang membariskan hari-hari
duhai senyum, kembalilah padaku
mekarkan bahagiaku
harumkan hidupku...
sebelum April melingkar
merenggut sehatku di pucuk pilu
memagut ceriaku di hamparan dilema yang hampa cahaya
sungguh, aku merindu
pada senyumku sendiri yang unyu-unyu
sungguh, aku ingin senyumku yang layu kembali rekah mewangi
cerahkan, harumkan tiap detik yang membariskan hari-hari
duhai senyum, kembalilah padaku
mekarkan bahagiaku
harumkan hidupku...
Minggu, 13 April 2014
Senyummu Di Daun Kenangku
Matahari sudah bertengger di ubun-ubun
namun senyummu masih mengembun
di daun kenangku yang rimbun
namun senyummu masih mengembun
di daun kenangku yang rimbun
Ilalang
Akulah ilalang liar
yang debar di gurun kesunyian
mencari letak bibir hujan
bibir kesuburan yang mekarkan sekuntum mawar kebahagiaan
di pucuk azam yang ranumkan siang-malam
yang debar di gurun kesunyian
mencari letak bibir hujan
bibir kesuburan yang mekarkan sekuntum mawar kebahagiaan
di pucuk azam yang ranumkan siang-malam
Kamis, 27 Maret 2014
Di Atas Kelopak Pagi
Menatap tetes-tetes embun di atas kelopak pagi yang menderaikan kesejukan ke cawan hati sembari membenamkan ingatan pada tanah sejuta kenang yang menumbuhkan bunga-bunga kerinduan, bunga-bunga yang mekarkan kuncup-kuncup kebahagiaan; mawar-mawar surgawi nan rekah mewangi di pucuk sunyi yang mengalunkan nyanyian langit, nyanyian kemenangan yang menasbihkan kesucian Yang Maha, menahmidkan keagungan Yang Maha, dan menakbirkan kebesaran Yang Maha sebagai gerimis syukur atas linangan hujan cinta yang tumpah-ruah dari ketinggian-Nya.
Doa Langit
Doa langit tumpah ruah
memecah resah yang rebah
di atas sajadah mahabbah
*Malam Jumat yang berlinang rahmat dan anugerah...
Kedekatan Batin dan Keintiman Rasa
Kedekatan batin tak bisa diukur dengan jarak fisik. Dan keintiman rasa perasaan tak bisa ditentukan oleh seberapa lama dua jiwa saling menyalami dan menyelami diri masing-masing. Semakin dalam dua napas tenggelam dalam palung pengertian, semakin karam jantung kerinduan mengendap dalam kedalaman terdalam.
Keblinger vs Waras
Orang-orang cerdas yang keblinger, tingkah dan tuturnya angker-angker, menohok ulu hati. Berbeda dengan orang-orang cerdas yang waras, perangai dan ucapannya laras, mendamaikan sanubari.
Pedang Sakti
Manakala pedang saktimu telah berhasil menebas tuntas tunas-tunas ragu di ladang jiwamu, barulah kau jawab maksud hatinya dengan tegas. Katakan "ya" jika memang hatimu menyambut harapan hatinya, atau katakan "tidak" bila nuranimu tak menghendaki azam terdalamnya.
Rabu, 26 Maret 2014
Istikharah: Pedang Penebas Tunas Ragu
Dan Mawar pun memilih Istikharah sebagai pedang untuk menebas tunas-tunas ragu yang menancap di ladang jiwanya setelah hujan kebimbangan mengguyurnya deras beberapa hari ini...
Selasa, 25 Maret 2014
Cukup Doa Restumu
Rasa khawatirmu adalah bentuk lain dari kasih-sayangmu yang tak pernah habis dikikis waktu. Namun, usah kau berlebihan mencemaskan masa depanku yang masih terbungkus kain misteri. Yang kumau, cukup doa restumu mengalir dalam jantungku sepanjang sungai rahmat-Nya aliri hari-hariku yang pelangi.
Minggu, 09 Maret 2014
Menjahit Robekan Ingat
Jeritan langit di lembar fajar
menjahit robekan ingatku yang pencar
tentang purnama hati yang dulu pijar
sebelum angin malam debar
dalam dada surga yang mawar
Terharu
Sebenarnya aku terharu dengan ingatanmu tentang hari lahirku yang kau ucapkan hari ini--sehari sebelum hari H--dengan alasan lupa tanggal karena aku terlalu lekat dalam ingatanmu. Terima kasih, duhai calon milyarder yang begitu tulus mencintaiku hingga tak pernah sedetikpun kau berpaling ke lain hati... Kita berdoa saja, mudah-mudahan jalan hidup kita selalu dimudahkan oleh-Nya, dan semoga di sisa napas yang Tuhan amanahkan pada raga kita ini senantiasa membawa berkah bagi kita dan orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita setulus hati... Amiiiin...
Sabtu, 08 Maret 2014
Surat Permohonan Untuk Sahabat Baru
Kepada sahabat baru yang telah membawa lari kekasih hatiku
Dear sahabat baru
Terima kasih, sahabatku sayang
lembut desirmu taburkan embun di dada kekasihku
wangi napasmu leburkan salju di sudut-sudut hatinya yang biru
belailah selalu ia dengan embus kasihmu
dekaplah selalu ia dengan semilir cintamu
aku percaya, detakmu mampu degupkan kebahagiaan di jantung waktunya
dan aku yakin, denyutmu sanggup hidupkan ia selamanya, meski --suatu saat-- kematian mempersuntingnya dengan mahar surga
Itu saja, yang kumau darimu untuknya. Semoga kau mengerti!
Sahabat barumu,
Ilalang Sunyi yang kekasih hatinya telah dibawa lari angin malam
Dear sahabat baru
Terima kasih, sahabatku sayang
lembut desirmu taburkan embun di dada kekasihku
wangi napasmu leburkan salju di sudut-sudut hatinya yang biru
belailah selalu ia dengan embus kasihmu
dekaplah selalu ia dengan semilir cintamu
aku percaya, detakmu mampu degupkan kebahagiaan di jantung waktunya
dan aku yakin, denyutmu sanggup hidupkan ia selamanya, meski --suatu saat-- kematian mempersuntingnya dengan mahar surga
Itu saja, yang kumau darimu untuknya. Semoga kau mengerti!
Sahabat barumu,
Ilalang Sunyi yang kekasih hatinya telah dibawa lari angin malam
Jumat, 07 Maret 2014
Mengkhatamkan Rindu
Dan kini, di lubuk sunyiku yang ritmis, kukhatamkan rinduku dengan melukis lengkung pelangi di bibirmu yang menyabitkan senyum termanis yang pernah kau ukir dalam lembaran waktuku, sebelum angin malam merebutmu dari pelukanku...
Kamis, 06 Maret 2014
Mengalkulasi Rindu
Dan di sudut tunggu, aku mengalkulasi rindu
dengan jemari waktu
namun, semakin kuhitung derai biru yang menganak sungai di palung kalbu
semakin lebat hujan pilu genangi kamar hatiku
dengan jemari waktu
namun, semakin kuhitung derai biru yang menganak sungai di palung kalbu
semakin lebat hujan pilu genangi kamar hatiku
Senin, 03 Maret 2014
Kembali Kumulai Awal
Kembali Kumulai Awal
by Em Je on Sunday, February 26, 2012 at 4:12am ·
Berulang kali kumulai awal
kuselip harap di setiap lipat waktu
seribu angan kulambungkan di ketinggian
selaksa ingin berserak di benak
namun,
dalam sadarku begitu serakah kutelan waktu
dimana rupiah kerap kukunyah di sembarang arah
sementara keningku kadang terlupa menyentuh wajah-Nya
dan semakin menjauh segalaku dari Muara
bak gelandangan jalanan lusuhnya akhlakku
kurindu "make over" kembali wajah hati
agar kembali merona
karena itu,
ku ingin kembali memulai awal yang putih
mulai malam ini
malam yang berlinang sesal
juga hasrat tuk kuikrarkan "taubat"
astaghfirullah al-azhim wa atubu ilaik, ya Ghoffar adz-dzunubi...
Created by: Em Je on Friday, 3 February 2012 at 00:08 ·
Sebait Doa Kulangitkan di Hari Lahirmu
Sebait Doa Kulangitkan di Hari Lahirmu
by Em Je on Friday, March 3, 2012 at 8:39pm
Jantung waktu yang tak henti berdetak, mengiringi denyut jantungmu mengalirkan merah darah perjuangan ke seluruh tubuh dunia. Hingga terselamatkan nyawamu dan nyawa-nyawa para kesatria yang setia mengayuh langkahnya di sepanjang alur Tuhan.
Dan kau pun tak goyah, ketika godaan duniawi melambai-lambai seiring dedaun asamu yang sesekali terjambak topan keputus-asaan. Karena, lagi-lagi ketangguhan yang melekat pada sekerat hatimu, berhasil merekatkan kuat puing demi puing tekad dan niat dalam bening cawan impian.
Lalu kau pun tak lupa menabur bebiji syukur di atas pelataran keridhoan-Nya. Hingga tumbuh dan bermekaran nuansa kembang kemenangan. Meski sesekali aroma durja menyeruak, sesakkan dadamu. Namun, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang hingga detik ini masih memberimu sebentuk rupawan jasad berbalut ruh yang teduh.
Dan aku —seseorang yang menginginkan kau hidup kekal bersamaku hingga di keabadian— belumlah sanggup tuk mempersembahkan padamu sebentuk kado mewah yang teranyam dari gelimang rupiah. Kendati demikian, dengan tanpa maksud mengurangi rasa bahagiamu di hari lahirmu ini, ku ingin melangitkan sebait do’a dan harapan kepada Dia Yang Maha Rahim dan Maha Rahman:
“ Ilahi, di hari lahirnya ini, hamba bermohon sepenuh harap pada-Mu, limpahkanlah senantiasa segala nuansa aroma bunga nirwana di setiap hela nafas, sepanjang hayatnya. Agar paru-paru lahir-batinnya senantiasa terpelihara dari segala polusi yang coba berlabuh, perkeruh hidupnya”.
Dan kepada-Mu pula lah hamba mendamba sepenuh asa:
“Ya Robbi, bentangkankanlah selalu untuknya, segala kemudahan dalam menyusuri jalanan hidup yang berliku menuju satu tempat bernama ‘maqom keridhoan-Mu’. Agar senantiasa mata dan hatinya mudah menggerimiskan bulir-bulir syair syukur. Hingga hari-harinya senantiasa merekah indah. Bersolek molek kuntum-kuntum senyum kebahagiaan, saban zaman.
Amiiin ya Allah ya Robbal alamin…”
Menenun Kain Setia
Selamat menenun kain setia
yang membusanai cinta dengan warna
surga
untukmu, yang dulu pernah desah dalam
kamar hatiku nan bunga
Melukis Pohon Surga
Selamat hari lahir, Kakanda
semoga lembar sejarahmu yang merah
muda
penuh tinta emas yang bergelimang
makna
hingga kau bisa melukis pohon surga
yang rimbunkan dedaun takwa
mekarkan kuntum-kuntum bahagia
buahkan asa yang angkasa
lalu, kau bersama cintamu memanjat
pesona
dan hari ini, dengan gugurnya sehelai
daun usia
semoga jadikanmu semakin dewasa dalam
memaknai degup masa
Selasa, 18 Februari 2014
Pelayaran Hati
Sepanjang pelayaran, entah berapa kali hati ini karam. Tak
jarang, kegelapan nyalakan keraguan. Tak terhitung, berapa palung menampung
surga dan neraka yang kubangun di altar kembara cinta. Tak terbilang berapa
kali sisa tenaga ini memunguti puing-puing gemintang yang menyerak dihempas
napas waktu. Namun, usah kau sesaki dadamu dengan tunas-tunas cemas. Karena
aku--dengan segala mimpi arasyku--akan tetap tegap menghadapi badai prahara
yang coba-coba olengkan perahu merah jambuku!!! Doakan aku, semua isi Semesta,
semoga perjalanan ini segera menemukan tepiannya!!!
Senin, 03 Februari 2014
Who Are You?
Belakangan ini, kau sering buatku kecewa
dengan tingkahmu yang kian hari kian bertengger di atas angin. Kau selalu
merasa dirimulah yang paling benar. Semua kehendak dan hasratmu senantiasa
menguasai bumi dan langit cinta kita. Dengan kata lain, kau tak pernah mau
mengalah dengan menurunkan satu anak tangga saja egomu yang menyentuh langit
ketujuh. Kau selalu menganggapku anak ingusan yang daya pikirnya masih polos
dan lugu, yang selalu harus kau pandu dalam melaju. Kacamatamu selalu
memandangku dengan tatapan semu. Jika sedikit saja aku tak mengiyakan maumu,
kau bilang aku meremehkanmu, tanpa mau peduli bila keadaan serupa kubalikkan
lagi padamu. Sungguh, aku muak dengan keadaan timpang seperti ini. Ditambah,
akhir-akhir ini kau selalu acuh dengan segala apa yang kumau darimu. Padahal
pintaku bukanlah permohonan yang terlalu merugikanmu. Aku minta 5x2 menit dalam
tiap 24 jam yang kau miliki pun, tak kau penuhi, dengan alasan kesibukanmu yang
tak kepalang. Aku minta dibuatkan puisi khusus untukku juga tak kau hiraukan. Padahal,
aku menginginkannya bukan karena aku haus kemesraan dan buaian seorang
pangeran. Melainkan aku hanya ingin mengasah jemari hatiku agar lebih tajam,
berharap aku mampu menebas segala pohon kemungkaran dengan tangkasnya pena
imaji. Apakah aku berlebihan dengan pintaku yang demikian? Jawablah, duhai
kandidat penghuni abadi surga hatiku! Jawablah!
Sungguh, aku tak pernah berhenti berusaha
mengenalmu lebih intim lagi, agar aku benar-benar mengenal keutuhanmu. Karena
kau telah kuanggap someone excellent
pembangkit semangatku yang nyaris redup diembus angin keputusasaan. Aku
berusaha mengubah diri menjadi lebih baik, lebih tangguh, lebih bermanfaat bagi
banyak orang. Sebagaimana yang kau tiupkan di telinga jiwaku. Kau masih ingat
kan, Sayang? Bahwa mataku pernah gerimis karena hatiku teriris kegelisahan yang
diantar hujan keraguan tentangmu yang kala itu tak kunjung menoleh ketika
berulangkali aku menyapamu dengan seutuh rindu yang biru. Kala itu dadaku sesak
melebihi orang yang sakit asma. Dan kau bertanya ada apa, kenapa aku terisak? Dan
bibirku tak kuasa menyampaikan pesan kegundahan dari lubuk kalbu yang pilu,
bersebab paru-paruku saat itu seperti tersendat oleh milyaran malaikat pencabut
nyawa (walau kutahu bahwa malaikat pencabut nyawa itu hanya satu: Izrail).
Langganan:
Komentar (Atom)