Senin, 23 Mei 2011

Ketika Kerinduan Terpenjara


Serasa ada yang kurang
serasa ada yang hilang
ketika kita sejenak merenggang
tak saling bertukar harum aroma kembang kasih-sayang

Sejujurnya, yang ada hanyalah hatiku dililit kegundahan
semasa kita tak saling menuang kerinduan
yang kian hari, kian menggenangi sebuah tempayan
tempayan raksasa yang terbuat dari cahaya cinta berkilauan

Sepertinya segalaku tak lagi mampu
berlama meniada dari adamu
kekacauan menikam lahir-batinku
membunuh merahnya gairah hidupku
ketika kau dan aku memenjarakan rindu
di remang relung kalbu
sekian waktu

Ruang Benderang Kemilau Rindu, 24 Mei 2011 (10.37 WIB)
Created by: Em Je

Nyanyian Pagi


Nyanyian pagi
Teralun syahdu
Sejukkan kalbu
Irama rindu
Dahsyat menggema
Riuhkan seisi relung jiwa

Embun-embun asmara
Berjatuhan, runtuh perlahan
Sesaat kemudian
Deras berderai
Melumat helai-helai daun hati

Sejuk gendang telinga
Menangkap nada-nada cinta
Segar berbinar taman sukma
Beraroma wewangian surgawi

Mentari Hatiku


Kau umpama mentari
terbit dari ufuk kemuning rasaku
perlahan meninggi
mencakar puncak biru kalbu
laun condong ke arah kuntum-kuntum harum rinduku
berangsur menyelam
tenggelam di ujung lembayung sukmaku

Tetaplah bersinar
duhai mentari hatiku
terangi bumi sanubari
cerahkan sanubari bumi
abadilah benderangmu
benderangkan semesta jiwa ini

Pantaskah Berlaku Keji Pada Wanita


Bukankah engkau terlahir
dari rahim yang lembut seorang wanita?
lantas pantaskah bila engkau
berlaku keji pada wanita???

Pernahkah terlintas di benakmu
bagaimana ikhwal sukmamu
andaikata sesuatu yang runcing dan tajam
menembus jantung hati wanita yang telah melahirkanmu
atau gadis buah hatimu
kira-kira akan seperti apa rupa rasaperasaanmu
ketika kau saksikan dengan mata fisikmu
juga penglihatan batinmu
hal yang demikian mengenaskan itu???

Asa Tuk Berjumpa


Sayang...
rasanya tak sabar lagi
ingin kulipat bentangan jarak
yang menyekat adamu dari adaku
tuk bersegera menghambur pada lembut wajahmu
menumpahkan kerinduan pada biru samudera hatimu…

Di Danau Hatimu


Di kedalaman danau hatimu
kuhanyutkan putih cintaku
kuendapkan mutiara rinduku
tuk kau jaga selalu, saban waktu

Rinai Gerimis Air Mata Lara


Kubasuh bahu malam buta
dengan rinai gerimis air mata lara
yang lunglai berjatuhan
setelah sekian waktu tertahan

Luruhlah sudah gumpalan awan pilu
tak lagi berselimut kabut hamparan langit kalbu
meski gulita belumlah sempurna menyirna
setidaknya setitik sinar kedamaian kurasa

Harapku terbunuh tanpa hunjaman sembilu
bahwa kan kau suguhkan bahumu
tuk kusandarkan kepalaku
seraya merebah manja
bertukar rasa, berbagi cerita
melepas kerinduan di ujung lelah
hingga terbit cahaya mimpi, merekah indah

Anganku mati tanpa tusukan belati
bahwa kan kau ninabobokan segalaku malam ini
di hangat pelukmu
di erat dekapmu
hingga terlelap segenap jiwa-raga kita
sampai aura bugar fajar menjelma

Ruang Gulita Penuh Gulana, 13 Mei 2011 (03.57 WIB)
Created by: Em Je

Kau dan Aku = Cinta


Entah sejak kapan magnet-magnet cinta
mulai menautkan hati kita berdua
tiba-tiba saja, lembutnya semilir angin waktu
hempaskan pikirku pada rupawan namamu, selalu

Tak kusangka, merah kuncup cinta di taman hati
kian hari kian mekar, merekah indah, berseri
lahirkan berjuta aroma semerbak, harum mewangi
manjakan paru-paru sanubari

Kurasakan di kedalaman jiwa
bunga-bunga cinta kian merona
mengalahkan pesona paras purnama
mengaburkan segala aura warna-warni jelita

Kau dan aku berpadu, bersatu menjadi kita
bernaung di bawah teduh payung asmara
berlindung di dalam megah singgasana cinta
bersenandung syahdu kidung rindu pelipur lara
sepanjang masa

Kau dan aku = Cinta

Taman Hati Beraroma Semerbak Bunga-Bunga Cinta, 12 Mei 2011 (02.59 WIB)
Created by: Em Je

Kembali Kutemani Kelelawar Malam


Sepertinya malam ini segalaku kan kembali tersendat
melaju gontai menuju rupawan taman pelangi mimpi
bersebab derasnya aliran arus rinduku tersumbat
terhambat serakan problema yang tiba-tiba menepi

Duhai pangeran penghuni singgasana hati
maafkan bila ku terlalu berlebih bermanja
meski ku tahu bahwa virus letih telah sedari tadi menjangkiti
segalamu di bahu malam buta

Biarlah malam ini kembali ku bercengkrama
bertukar cerita bersama kelelawar sahabat karib angin malam
sekedar menipiskan kabut gulana
yang kian menebal, menggumpal, kelam

Berharap menjelma kelebat bayang memikat malaikat cinta
sebagai penawar mujarab gundah di kalbu
pereda gejolak lara yang sedemikian panas, membara
pemadam biru nyala pilu di tungku hatiku

Istana Sunyi Hatiku, 11 Mei 2011 (01.20 WIB)
Created by: Em Je

Petuah Rindu


Pada kanvas emas langit malam
berlukiskan kuntum-kuntum senyum gemintang dan rembulan
Rindu berbisik lirih pada telinga jiwaku, penuh kelembutan:
" Usahlah kau jadikanku sebagai benalu
pembelenggu kalbumu
namun, jadikanlah derai-derai biruku
sebagai oase penyuguh damai di telapak hati
memijak gurun kesunyian dini hari
dengan begitu, bulir-bulir kebahagiaan
akan senantiasa deras mengucur
melebur hawa gerah pada sekujur jiwa-ragamu"

Di Bawah Kemilau Langit Malam, 10 Mei 2011 (23.32 WIB)
Created by: Em Je

Getar Senar Biola Jiwa


"Tanpa kugesek sedikit pun
senar biola jiwa ini tiada henti
bergetar hebat, dahsyat
mengundang desir lembut khayal dan angan
serupa nyanyian bahagia dedaunan
seirama senandung merdu kawanan burung
yang bertengger, berbaris manis
berderet membentuk barisan horizontal kemenangan
memijak dedahan dan reranting pohon rindu di taman kalbu"
bisik seorang gadis yang tengah merindu kekasihnya
kepada kerumunan burung asmara
yang tengah riang berdendang
pada dedahan dan reranting pohon delima
di beranda pelangi rumahnya.

Di Bawah Rindang Pohon Asmara, 10 Mei 2011 (23.27 WIB)
Created by: Em Jep

Ketika Kau Tak Menyapa


Ketika kau tak menyapa
hanya ada gelisah mengoyak jiwa

Ketika kau tak menyapa
hanya ada gulana mencabik sukma

Ketika kau tak menyapa
hanya ada lara menohok dada

Ketika kau tak menyapa
hanya ada kesunyian menggema

Ketika kau tak menyapa
hanya ada tangis membahana

Ketika kau tak menyapa
hanya ada aku bermuram durja

Ketika kau tak menyapa
hanya ada ketiadaan mengada

Ruang Hampa Cahaya Kedamaian, 9 Mei 2011
Created by: Em Je

Kuntum-Kuntum Rindu di Taman Hatiku


Harum mewangi sudah
seantero taman hatiku merekah
yang kau tanami warna-warni mawar cinta

Bermekarlah sudah
kuntum-kuntum rinduku basah
segar berbinar bermandikan embun bahagia

Taman Hati Beraroma Semerbak Mawar Cinta, 7 Mei 2011 (02.27 WIB)
Created by: Em Je

Deru Rindu di Palung Kalbu


Rinduku kian menderu drastis
bertubrukan dengan syahdunya irama rinai gerimis
sebabkan mataku hanyut dalam haru biru tangis
menenggelamkan segala gulana yang perih mengiris

Adakah di sana arus rindumu pun deras mengalir?
menuju muara hatiku hingga terendam, banjir

Adakah malam ini wajahku terpahat di memori hatimu?
sebagaimana namamu termaktub indah di lembar pelangi benakku

Pelataran Biru Rindu, 6 Mei 2011 (19.43 WIB)
Created by: Em Je

Secawan Rindu Untukmu


Entah sudah berapa lama
bibir ini tak menderaikan bulir-bulir tawa
mengalirkannya deras menuju muara kemenangan
baru pagi ini, kembali bahak dan gelak meledak
membanting hening yang betah bergeming
menghidupkan irama bahagia mengalun mesra
membangunkan asa di pembaringan masa depan

Terima kasih, duhai sebuah nama penyirna gulana di jiwa
derasnya arus rindu dari palung sanubarimu
kureguk hangat-hangat, sepenuh nikmat
sebagai penghalau kemarau di pelataran hati

Dan terimalah olehmu, duhai pemilik sekerat hati berselai cinta
secawan rindu persembahan dariku
minumlah tanpa kau sisakan bulir terakhirnya
agar tak lagi kehausan kerongkongan ruhanimu
setelah dicekik teriknya sengatan bara nestapa

Belantara Biru Rindu, 6 Mei 2011
Created by: Em Je

Derai Damai


Entah ini kali keberapa suaramu yang dihantar udara merasuk gendang telingaku. Kurasakan ada sesuatu yang beda antara kekuatan suaramu malam ini dengan daya suaramu sebelumnya. Pertama kali suaramu yang disampaikan angin malam pada indera pendengaranku, kurasakan teramat biasa saja, tiada terkandung di dalamnya kehangatan dan ketulusan yang menabur rasa damai di jiwa. Namun kali ini, sungguh kurasakan suaramu tak sekedar menuang kedamaian di hatiku, namun kehangatannya melebihi syahdunya kidung rindu yang tengah mengalun lembut, menenggelamkan kesunyian yang bertahta di palung sukmaku. Ada irama kemesraan yang tertahan di kerongkongan ruhaniku, sebagai respon penyambutan hangat sapamu di ujung letihmu, usai kau tunai segala bentuk aktivitas harianmu,  yang tlah menyedot habis energi penyangga lahir-batinmu. Barangkali kau ingin tahu mengapa irama kemesraan yang hendak kuperdengarkan pada telinga batinmu itu bisa tercekal, tertahan di kerongkongan? Bila kau tanya demikian, inilah jawaban hatiku sebagai penebas tanda tanya yang berdiri tegak memijak benakmu; “Karena aku tersipu, dan itu sebabkan lidahku membeku, kelu”.

Tidak banyak perihal yang kita bahas kali ini. Sekedar masalah seputar cinta masa lalumu dan harapan tulus masa depanmu. Aku menjadi penanya sejati pada bincang ringan kita—namun penuh keseriusan— malam ini. Dan kau pun menjadi penjawab yang bijak tentunya, atas segala tanya yang berderet, jejali benakku. Aura kejujuran merekah. Kucium harum aromanya sepenuh khidmat, seraya menggumam lirih dalam batin; “semoga apa-apa yang kau ucap dan kau ungkap padaku adalah murni suara hatimu nan putih, suci. Bukan gombalan murahan yang kerap diobral Play Boy Cap Gajah kepada sejumlah gadis yang dianggapnya lugu dan polos, yang mudah ditipu dan dikelabui”

Sejujurnya aku telah sampai pada titik jemu, bertemu dengan sejumlah sosok yang kusebut dengan Play Boy Cap Gajah, yang tak jengah memperlakukan sejumlah gadis sebagai boneka mainan, yang bisa dipermainkan sesuka hati. Eits, maksudku sewenang-wenang. Karena menyebut-nyebut soal hati, apakah yang kunamai PBCG itu memiliki hati nurani? Bukankah mereka tuna rasaperasaan? Maafkan bila ku terlalu kejam menganggap mereka sedemikian keji. Dan yang terpenting kau bukan bagian dari species mereka ya, duhai sang pencinta di antara kerumunan pendusta... Bersebab aku begitu yakin bahwa kau pun mengerti bagaimana rasanya bila kerikil-kerikil kebohongan dan dusta merajam hatimu. Menghunjam tajam ke jantungmu. Sakit dan perih bukan?

Hehehe… Maafkan aku, duhai engkau pemilik kelembutan hati. Amarahku memerah tiba-tiba. Menyala. Bila kumengingat-ingat lagi perilaku beringas buaya-buaya darat yang berkembang biak di dunia maya pun dunia nyata. Ah, sudahlah. Biar kemarahan ini kupadamkan saja, khawatir jiwaku akan hangus, menjadi abu, bila terbakar bara kebencian yang panas dan ganas mengunyah hati dan perasaan.

Berhubung letih telah menubruk jiwa-ragamu setelah seharian mejamah tumpukan tugas dan kewajibanmu, jadi kita tak bisa berlama menderaikan bulir-bulir canda dan tawa dari bibir kita. Sungguh, aku tak tega membiarkanmu lebih lama menunda pembenaman matamu di ufuk hatiku, eits salah ucap, maksudku di pembaringan empuk malam. Hehehe… Ya sudah, tak berselang lama, kurelakan suara merdumu (eits jangan ge er yawww…) padam seiring ucapan salam penutup di ujung telepon sana.

Selamat tidur, duhai sebuah nama pendamai jiwa, mimpi indah semoga senantiasa merekah, sebagai bunga penghias tidurmu malam ini. Semoga esok hari kau saksikan lagi senyum mentari pagi berseri, hangatkan gigil sanubari…

Ruang Benderang Cahaya Rindu, 6 Mei 2011
Created by: Em Je

Jeritan Penantian


Tak biasanya di separuh perjalanan hari
tak tampak terik mencekik
kerongkongan para pencari arti hidup
justru yang menjelma di pelupuk jiwa
adalah gumpalan kabut pekat mencair
berderai lembut membasuh kalbu

Hawa sejuk tak jemu membujuk
merayu benak memetik kuntum senyum
mengintimkan pikirku
dengan pemilik sebuah nama yang kurindu

Adakah jantungnya berdegup lebih kencang?
diguncang tiupan angin rindu
dari arah pantai asmara
sebagaimana di ruang teduh jiwa ini
menggelegar jeritan kegundahan
jeritan penantian sua perdana merambah kenyataan

Di Bawah Rinai Gerimis, 5 Mei 2011 (12.27 WIB)
Created by: Em Je

Rinduku Mencakar Puncak Himalaya


Kuakui, memang kurasakan belumlah sebulat purnama
cinta di hatiku, untuk sebuah nama
namun, kuingin dia tahu bahwa
kian hari kian menggumpal rindu di dada
hendak mencakar puncak Himalaya

Apalagi bila sendiriku tengah menancap
memijak ruang remang cahaya berhiaskan senyap
semakin nyata terasa
semilir angin rindu merambat gontai
dihantar helai-helai dedaunan asmara
gemulai melambai-lambai

Adakah hati yang merindu bisa lelap terpejam?
sementara bara birunya tak jua memudar, padam

Adakah jiwa yang dihantam kesunyian bisa nyenyak tertidur?
sementara kelebat-kelebat bayang wajah cinta tak jua beranjak, kabur

Pembaringan Rindu, 5 Mei 2011 (02.35 WIB)
Created by: Em Je

Pengembaraan Ingatanku


Duhai angin malam, tahukah kau? Betapa semalaman ini hatiku basah, tergenang bulir-bulir gelisah. Ingin rasanya aku berkesah padanya, namun malam ini ia tak menyetor wajahnya di hadapku. Bahkan sepucuk surat berisi tentang cinta dan kerinduannya padaku pun tak ia titipkan pada lembut semilirmu. Untungnya masih ada kau yang selalu dan melulu setia tuk mendengar keluhku, juga kesahku. Terima kasih kuucap untukmu, duhai pelebur gerah di jiwa.

Kepadamu, ingin kukisahkan perihal pengembaraan ingatanku menyusuri gurun kesunyian. Adalah aku terduduk seorang diri di atas lantai beralas keheningan. Termangu pilu. Menatap buram angkasa malam. Tak tampak bintang gemintang menghampar, menghias paras malam. Tak jua rembulan menebar sinar, leburkan pekat yang kian menebal. Tak terasa, tetes-tetes bening berderai. Banjiri belantara pipiku. Bahkan saking derasnya linangan air bening itu hingga menyebrangi hamparan leherku. Terhanyut aku dalam isak yang sesakkan dada. Tenggelam segalaku dalam tangis yang mengiris ulu hatiku. Ada semacam rasa perih menindih sukmaku. Rasa perasaan yang aneh. Menggebu. Mengguncang palung kalbu. Entah apa namanya. Barangkali rindu. Itulah tebakanku.

Benarkah muasal bermacam rasa aneh ini adalah rindu? Entahlah, aku pun awam memaknai rasa perasaanku sendiri. Lantas bagaimana aku akan gamblang mengetahui perihal rasa perasaannya terhadapku, sementara menerjemahkan muasal kegelisahanku sendiri saja aku dililit kesulitan. Tapi aku tak tahu apakah ia bisa turut merasakan keanehan rasaku atau tidak ya? Hanya dia, Dia dan malaikat-Nya yang tahu.

Letihnya mata ini memintaku bersegera mengistirahatkannya. Di atas pembaringan lembab sunyi. Namun hatiku merintanginya. Ia memberontak ricuh. Tak restui mataku tuk mengatupkan kelopaknya barang sejenak saja. Ada sebentuk gemuruh mencipta gaduh di kedalaman batin ini. Jerit lirih membahana. Mengamuk tiada terkira. Menggelegar hebat. Memecah telinga semesta malam. Sebut saja jerit rindu. Begitu kumenamainya.

Dalam keterjagaan, akhirnya mata dan hatiku menuai kesepakatan. Tuk berjalan beriringan. Lewati bentangan malam hening. Hingga fajar menyingsing. Keduanya bersafari. Menyibak kabut sunyi. Memijaki jalanan sepi. Hingga pada suatu jarak tertentu, langkah keduanya terhenti. Tercegat sebentuk remang bayang yang perlahan gamblang di pelupuk pandang. Tak salah lagi, bayang tersebut tiada lain tiada bukan adalah bayang wajah yang kurindui. Wajah rupawan bercadar senyum mekar, berseri. Wajahmu, duhai engkau, sang perenggut malam-malamku. Hingga kerap kali tak kuasa kumenatap dan memandangi wajah mentari pagi. Menjemur ragaku di bawah hangat atmosfir pagi.

Gurun Kesunyian, 3 Mei 2011 (05.08 WIB)
Created by: Em Je

Sebuah Pertanda


Mana mungkin mataku bisa lelap terpejam
sementara pikirku terbang-terbang
menembus buram angkasa malam
mengupas remang sebuah bayang

Dedaunan yang menggigil itu menjadi saksi
betapa semakin hari kian terpatri namamu di dinding hati
meski yakinku belumlah sesempurna purnama
bahwa rasa aneh ini adalah sebuah pertanda
di hati ini telah mekar sekuntum cinta

Pembaringan Rindu, 3 Mei 2011 (02.45 WIB)
Created by: Em Je