Saat aku kehilangan rasa nyamanku untuk hidup merdeka dari segala batas yang dicipta orang lain untuk merintangi dinamika pikirku, saat itulah aku dan segalaku merasa seperti hidup tanpa cahaya yang berikan segala rupa warna keindahan. Tanpa rasa nyaman, aku bagaikan hidup di bentangan gurun kegelapan yang mengerikan. Ketiadaan rasa nyaman lumpuhkan gairah diri untuk melangkah, menyongsong hari bertabur pelangi. Benarkah aku telah kehilangan rasa nyamanku? Jika benar, lantas di manakah kembali aku bisa menemukan rasa nyamanku yang hilang itu? Wahai sebelah diri yang berpeluk malaikat rahmat, dekaplah sebelah dirimu yang lain nan rebah dalam buaian anak buah iblis yang penuh muslihat, tiupkan angin segar di paru-paru waktunya yang terkontaminasi aroma derita nan menyiksa, aliri jantung masanya dengan merah darah cinta yang hidupkan hidupnya bertabur kelopak bahagia, agar kau dan seutuh dirimu benar-benar merasakan kembali betapa cantiknya paras dunia bersimbah rekah harum surga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar