Senin, 03 Februari 2014

Who Are You?



        Belakangan ini, kau sering buatku kecewa dengan tingkahmu yang kian hari kian bertengger di atas angin. Kau selalu merasa dirimulah yang paling benar. Semua kehendak dan hasratmu senantiasa menguasai bumi dan langit cinta kita. Dengan kata lain, kau tak pernah mau mengalah dengan menurunkan satu anak tangga saja egomu yang menyentuh langit ketujuh. Kau selalu menganggapku anak ingusan yang daya pikirnya masih polos dan lugu, yang selalu harus kau pandu dalam melaju. Kacamatamu selalu memandangku dengan tatapan semu. Jika sedikit saja aku tak mengiyakan maumu, kau bilang aku meremehkanmu, tanpa mau peduli bila keadaan serupa kubalikkan lagi padamu. Sungguh, aku muak dengan keadaan timpang seperti ini. Ditambah, akhir-akhir ini kau selalu acuh dengan segala apa yang kumau darimu. Padahal pintaku bukanlah permohonan yang terlalu merugikanmu. Aku minta 5x2 menit dalam tiap 24 jam yang kau miliki pun, tak kau penuhi, dengan alasan kesibukanmu yang tak kepalang. Aku minta dibuatkan puisi khusus untukku juga tak kau hiraukan. Padahal, aku menginginkannya bukan karena aku haus kemesraan dan buaian seorang pangeran. Melainkan aku hanya ingin mengasah jemari hatiku agar lebih tajam, berharap aku mampu menebas segala pohon kemungkaran dengan tangkasnya pena imaji. Apakah aku berlebihan dengan pintaku yang demikian? Jawablah, duhai kandidat penghuni abadi surga hatiku! Jawablah!
        Sungguh, aku tak pernah berhenti berusaha mengenalmu lebih intim lagi, agar aku benar-benar mengenal keutuhanmu. Karena kau telah kuanggap someone excellent pembangkit semangatku yang nyaris redup diembus angin keputusasaan. Aku berusaha mengubah diri menjadi lebih baik, lebih tangguh, lebih bermanfaat bagi banyak orang. Sebagaimana yang kau tiupkan di telinga jiwaku. Kau masih ingat kan, Sayang? Bahwa mataku pernah gerimis karena hatiku teriris kegelisahan yang diantar hujan keraguan tentangmu yang kala itu tak kunjung menoleh ketika berulangkali aku menyapamu dengan seutuh rindu yang biru. Kala itu dadaku sesak melebihi orang yang sakit asma. Dan kau bertanya ada apa, kenapa aku terisak? Dan bibirku tak kuasa menyampaikan pesan kegundahan dari lubuk kalbu yang pilu, bersebab paru-paruku saat itu seperti tersendat oleh milyaran malaikat pencabut nyawa (walau kutahu bahwa malaikat pencabut nyawa itu hanya satu: Izrail).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar