Belakangan ini, kau sering buatku kecewa
dengan tingkahmu yang kian hari kian bertengger di atas angin. Kau selalu
merasa dirimulah yang paling benar. Semua kehendak dan hasratmu senantiasa
menguasai bumi dan langit cinta kita. Dengan kata lain, kau tak pernah mau
mengalah dengan menurunkan satu anak tangga saja egomu yang menyentuh langit
ketujuh. Kau selalu menganggapku anak ingusan yang daya pikirnya masih polos
dan lugu, yang selalu harus kau pandu dalam melaju. Kacamatamu selalu
memandangku dengan tatapan semu. Jika sedikit saja aku tak mengiyakan maumu,
kau bilang aku meremehkanmu, tanpa mau peduli bila keadaan serupa kubalikkan
lagi padamu. Sungguh, aku muak dengan keadaan timpang seperti ini. Ditambah,
akhir-akhir ini kau selalu acuh dengan segala apa yang kumau darimu. Padahal
pintaku bukanlah permohonan yang terlalu merugikanmu. Aku minta 5x2 menit dalam
tiap 24 jam yang kau miliki pun, tak kau penuhi, dengan alasan kesibukanmu yang
tak kepalang. Aku minta dibuatkan puisi khusus untukku juga tak kau hiraukan. Padahal,
aku menginginkannya bukan karena aku haus kemesraan dan buaian seorang
pangeran. Melainkan aku hanya ingin mengasah jemari hatiku agar lebih tajam,
berharap aku mampu menebas segala pohon kemungkaran dengan tangkasnya pena
imaji. Apakah aku berlebihan dengan pintaku yang demikian? Jawablah, duhai
kandidat penghuni abadi surga hatiku! Jawablah!
Sungguh, aku tak pernah berhenti berusaha
mengenalmu lebih intim lagi, agar aku benar-benar mengenal keutuhanmu. Karena
kau telah kuanggap someone excellent
pembangkit semangatku yang nyaris redup diembus angin keputusasaan. Aku
berusaha mengubah diri menjadi lebih baik, lebih tangguh, lebih bermanfaat bagi
banyak orang. Sebagaimana yang kau tiupkan di telinga jiwaku. Kau masih ingat
kan, Sayang? Bahwa mataku pernah gerimis karena hatiku teriris kegelisahan yang
diantar hujan keraguan tentangmu yang kala itu tak kunjung menoleh ketika
berulangkali aku menyapamu dengan seutuh rindu yang biru. Kala itu dadaku sesak
melebihi orang yang sakit asma. Dan kau bertanya ada apa, kenapa aku terisak? Dan
bibirku tak kuasa menyampaikan pesan kegundahan dari lubuk kalbu yang pilu,
bersebab paru-paruku saat itu seperti tersendat oleh milyaran malaikat pencabut
nyawa (walau kutahu bahwa malaikat pencabut nyawa itu hanya satu: Izrail).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar