Dan kini, elegi itu datang lagi. Setelah
puluhan purnama kita lewati. Lagi-lagi perihal materi duniawi menjadi pengobar
kegelisahan di jiwa orang tuaku yang sedari dulu melihatmu dan keluargamu ‘tak
sebanding’ dengan keluargaku. Kau dan keluargamu merasa hidup bahagia dengan
‘kesederhanaan’. Begitu pun dengan keluargaku—dimana kami pun merasa berasal
dari keluarga yang ‘sederhana’—tidak merasa kaya, pun tak merasa miskin. Namun,
sayang sekali, rupanya makna ‘kesederhanaan’ di mata dua keluarga besar kita
sedikit berbeda. Menurut kaca mata orang tuaku, keluargamu berada di bawah kami
dalam hal finansial. Begitu pun dalam perihal religiusitas, keluargamu setingkat
lebih rendah dibanding keluargaku. Walau demikian, kurasakan kehangatan yang
begitu kental tercipta di tengah-tengah keluargamu yang ‘sederhana’ itu.
Sedangkan di keluargaku yang serba tercukupi kebutuhan materinya, aku merasa
betapa minimnya kehangatan yang terurai, sehingga timbul kesan ‘agak renggang’
hubungan emosional yang mengalir di keluargaku ini.
Aku hanya ingin bahagia. Salahkah bila
aku menginginkan kebahagiaan menyelimuti hari-hariku? Dengan siapa aku bahagia?
Aku ingin bahagia bersama orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Laiknya
kebanyakan orang, aku pun memiliki keinginan yang agung untuk menyempurnakan
sunnah Rasul SAW; menikah. Dengan siapa aku menikah? Aku ingin hidup bersama
dengan ‘lelaki berhati embun’ sepertimu. Aku tak peduli walau kau saat ini
‘belum matang’ dalam urusan materi. Bukankah setiap insan masing-masing sudah
disiapkan rezekinya oleh Dia Yang Maha Pemberi, tinggal bagaimana kita
‘menggali’ nya. Di dunia belahan mana rezeki itu terpendam? Kita tinggal
berusaha dan tak henti mengiringinya dengan untaian doa.
“Bila masih di langit, Engkau turunkan. Bila
di dalam bumi, Engkau keluarkan. Bila masih jauh, Engkau dekatkan. Bila masih
haram, Engkau bersihkan. Bila masih sulit, Engkau mudahkan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar