Senin, 03 Februari 2014

Elegi Itu Datang Lagi



        Dan kini, elegi itu datang lagi. Setelah puluhan purnama kita lewati. Lagi-lagi perihal materi duniawi menjadi pengobar kegelisahan di jiwa orang tuaku yang sedari dulu melihatmu dan keluargamu ‘tak sebanding’ dengan keluargaku. Kau dan keluargamu merasa hidup bahagia dengan ‘kesederhanaan’. Begitu pun dengan keluargaku—dimana kami pun merasa berasal dari keluarga yang ‘sederhana’—tidak merasa kaya, pun tak merasa miskin. Namun, sayang sekali, rupanya makna ‘kesederhanaan’ di mata dua keluarga besar kita sedikit berbeda. Menurut kaca mata orang tuaku, keluargamu berada di bawah kami dalam hal finansial. Begitu pun dalam perihal religiusitas, keluargamu setingkat lebih rendah dibanding keluargaku. Walau demikian, kurasakan kehangatan yang begitu kental tercipta di tengah-tengah keluargamu yang ‘sederhana’ itu. Sedangkan di keluargaku yang serba tercukupi kebutuhan materinya, aku merasa betapa minimnya kehangatan yang terurai, sehingga timbul kesan ‘agak renggang’ hubungan emosional yang mengalir di keluargaku ini.
        Aku hanya ingin bahagia. Salahkah bila aku menginginkan kebahagiaan menyelimuti hari-hariku? Dengan siapa aku bahagia? Aku ingin bahagia bersama orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Laiknya kebanyakan orang, aku pun memiliki keinginan yang agung untuk menyempurnakan sunnah Rasul SAW; menikah. Dengan siapa aku menikah? Aku ingin hidup bersama dengan ‘lelaki berhati embun’ sepertimu. Aku tak peduli walau kau saat ini ‘belum matang’ dalam urusan materi. Bukankah setiap insan masing-masing sudah disiapkan rezekinya oleh Dia Yang Maha Pemberi, tinggal bagaimana kita ‘menggali’ nya. Di dunia belahan mana rezeki itu terpendam? Kita tinggal berusaha dan tak henti mengiringinya dengan untaian doa.
“Bila masih di langit, Engkau turunkan. Bila di dalam bumi, Engkau keluarkan. Bila masih jauh, Engkau dekatkan. Bila masih haram, Engkau bersihkan. Bila masih sulit, Engkau mudahkan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar