Senin, 03 Februari 2014

Tanpa Judul


     

        Pukul 20.31 WIB. Entah apa yang ingin kutulis. Aku tidak tahu. Yang kutahu, benakku dipenuhi potongan-potongan wajahmu yang terbingkai dalam figura maya. Di situ, senyummu terkembang, meski nampak sedikit tertahan. Sekuntum senyum yang ramah, penuh ketulusan. Selalu menghantui siang-malamku. Mengiringiku kala kuterjaga. Rasuki ketermanguanku dalam dekapan kesunyian malam. Mengintimi segalaku di peraduan mimpi bertabur bunga nirvana. Senyum itu telah menikahi jiwaku.
        Pukul 20.51 WIB. Aku masih belum tahu, apa yang ingin kuuntai. Yang kutahu, kini, merdu suaramu kembali terngiang. Suaramu yang mampu menembus kedalamanku. Merobek-robek kegelisahanku. Mengoyak lembaran suram masa silamku. Membentangkan merah-putih di jagat sukmaku. Suara itu telah menjelma kantata cinta yang selalu mengalun, syahdu. Mendamaikan hidupku. Tenteramkan gemuruh di hamparan hijau-biru.
        Pukul 21.11 WIB. Kini, aku sudah tahu apa yang ingin kurajut. Aku ingin merajut benang-benang rasaku menjadi kain cinta, untuk membusanai tubuh-tubuh dunia, agar  nampak indah, berkharisma. Agar semua kelopak mata bermekaran, kuntum-kuntum senyum merekah ruah, dan semua oksigen kehidupan meresap jauh ke dalam sukma.
        Pukul 21.31 WIB. Kembali padamu, makhluk maya yang nyata di alam sastra. Ragamu memang masih disamarkan bentang jarak, namun, sebagaimana kita rasakan beberapa pekan ini, jiwa kita begitu intim dalam selimut kata-kata.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar