Pukul 20.31 WIB. Entah apa yang ingin
kutulis. Aku tidak tahu. Yang kutahu, benakku dipenuhi potongan-potongan
wajahmu yang terbingkai dalam figura maya. Di situ, senyummu terkembang, meski
nampak sedikit tertahan. Sekuntum senyum yang ramah, penuh ketulusan. Selalu
menghantui siang-malamku. Mengiringiku kala kuterjaga. Rasuki ketermanguanku
dalam dekapan kesunyian malam. Mengintimi segalaku di peraduan mimpi bertabur
bunga nirvana. Senyum itu telah menikahi jiwaku.
Pukul 20.51 WIB. Aku masih belum tahu,
apa yang ingin kuuntai. Yang kutahu, kini, merdu suaramu kembali terngiang.
Suaramu yang mampu menembus kedalamanku. Merobek-robek kegelisahanku. Mengoyak
lembaran suram masa silamku. Membentangkan merah-putih di jagat sukmaku. Suara
itu telah menjelma kantata cinta yang selalu mengalun, syahdu. Mendamaikan
hidupku. Tenteramkan gemuruh di hamparan hijau-biru.
Pukul 21.11 WIB. Kini, aku sudah tahu
apa yang ingin kurajut. Aku ingin merajut benang-benang rasaku menjadi kain
cinta, untuk membusanai tubuh-tubuh dunia, agar
nampak indah, berkharisma. Agar semua kelopak mata bermekaran,
kuntum-kuntum senyum merekah ruah, dan semua oksigen kehidupan meresap jauh ke
dalam sukma.
Pukul 21.31 WIB. Kembali padamu, makhluk
maya yang nyata di alam sastra. Ragamu memang masih disamarkan bentang jarak,
namun, sebagaimana kita rasakan beberapa pekan ini, jiwa kita begitu intim
dalam selimut kata-kata.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar