KepadaMu, derasnya rasa syukur ini bermuara. Atas warna-warni anugerah yang Kau curah sedemikian melimpah. Yang menyuguhkan kedamaian bagi dua hati yang saling bertaut dalam satu rasa bernama Cinta. Yang menyajikan kebahagiaan bagi dua nafas yang saling meniupkan kerinduan.
KepadaMu jua, bingkisan putih puji kualamatkan. Sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan pelangi Cinta dan Kasih-SayangMu bagiku dan baginya, yang kemarin dan saat ini—bahkan bila Engkau menghendaki, esok dan selamanya— ada dalam naungan Cinta. Hamdan wa syukron lillah ala kulli ni’am, al-maufurah…
Dengan izinMu, aku dan dia berjumpa tiba-tiba, tanpa sengaja. Ku tahu pertemuanku denganya bukanlah suatu kebetulan, meski kejadian ini terjadi tanpa ketidaksengajaan. Karena ku tahu bahwa segala yang akan dan telah terjadi adalah rencanaMu. Dan aku tahu segala ragam rencanaMu tak ada yang tak indah. Hanya saja, terkadang, bahkan tak jarang hamba-hambaMu lah—terutama aku dan diriku—yang awam memahami ketentuanMu Yang Maha Bijak. Ku bermohon padaMu, duhai Engkau Maha Pengampun, ampunilah segenap dosa dan khilafku di masa lalu dan kini. Jauhkanlah segalaku dari panasnya bara nerakaMu. Dan bimbinglah langkahku menuju indahnya firdausMu. Amin ya Allah ya Robbal alamin…
Dengan restuMu jua, cintaku padaMu dan padanya bertahan sampai detik ini. Meski kerap kali bermacam godaan di luaran mengombang-ambingkan rasa di jiwa bernama Cinta ini. Meski sering kali berjuta pesona lain membuai segalaku, membuatku berbalik haluan pandangan ke arahnya. Harapku padaMu, tetapkanlah hati ini pada CintaMu dan Cintanya, selalu. Selamanya. Amin…
Tak terasa, dengan kehendakMu pula, barisan hari telah kami (aku dan dia) lalui bersama. Walau dalam ruang yang berlainan. Meski dalam bentang yang berjauhan. Sekalipun raga kami terhalang tirai jarak, namun jiwaku dan jiwanya seakan teramat dekat tanpa sekat. Seolah menyatu dalam satu ruang benderang cahaya rindu. Siang berganti malam. Mentari berganti rembulan. Sabit pun membulat. Menjelma purnama, pelebur pekat.
Purnama pertama terlewati sudah. Dengan kuntum-kuntum senyum merekah, indah. Meski sempat pula gundah di hati membuncah. Walau turut pula hamparan pipi kita basah. Terguyur isak pilu yang pecah. Tergenangi derai tangis haru yang tumpah-ruah.
Purnama kedua pun menyapa. Beragam cobaan melanda. Keraguan di hatiku mulai menyala. Bersebab kebimbangan rasa di jiwa kian membara. Namun engkau sang pemilik kelembutan jiwa, tak jemu meniupkan rindu ke arah rumah hatiku. Tak kenal letih dan lelah, jiwamu tak bosan bermunajah. Berharap cinta di hatiku yang nyaris layu disengat bara dilema, kembali bugar bak kuncup-kuncup mawar bermekar, segar berbinar diguyur rinai embun pagi yang deras mengucur.
Purnama ketiga datang menjelang. Kecamuk bimbang di hatiku belumlah hengkang. Keraguan rasa di jiwa kian bersarang. Namun, lagi-lagi segalamu tak kenal kata “menyerah” tuk selalu menjaga dan mempertahankan Cinta, yang telah kita bina. Dan segalaku belumlah menuai matang buah keyakinan. Hingga sempat terbersit lirih suara nurani “Apakah sebaiknya kutebang saja pohon Cinta yang nyaris tumbang ini?”
Purnama keempat tiba. Gemuruh ragu semakin membahana. Pikirku kalut, tiada terkira. Di sisi lain, kerinduan dahsyat berdebur. Melebihi dahsyatnya debur ombak di lautan Barat dan Timur. Kuputuskan tuk sekian waktu, menyendiri dalam renung. Berharap kutemu cahaya Ilahi sebagai pelita penerang relung batinku, yang berselimut kabut bingung. Walhasil, bukannya ku beroleh pencerahan hati dan pikir, yang kudapat hanyalah kekacauan suasana jiwa dan ikhwal kalbu. Bersebab segalaku seakan lumpuh, tak sanggup berkutik lahir dan batin, memikul beratnya gundukan kerinduan. Memenjarakannya di relung batin, sendirian. Tanpa setitik sinar cintamu, membunuh kegelapan.
Purnama kelima menepi. Gulita di jiwa berangsur pergi, jauh berlari. Ragu dan bimbang di kalbu perlahan menguap ke udara. Sabit cinta di langit hatiku kian membulat. Menyaingi bulatnya purnama, pelita penerang semesta malam buta. Segenggam harap kuajukan padaNya Sang Pengabul Harap; “semoga CintaNya senantiasa menaungi Cintaku padaNya dan padamu, selalu. Selamanya. Semoga Cintaku kepadaNya dan kepadamu adalah Cinta suci, abadi. Sebagaimana CintaNya kepadaku dan kepadamu, duhai Cinta yang mencintaiNya dan mencintaiku setulus hati”.
Duhai Engkau dan engkau, dengarlah, inilah mohonku, inilah sebaris do’aku: “Abadikanlah CintaMu dan Cintamu untukku, sebagaimana aku dan diriku yang berencana dan terus berusaha mengabadikan Cintaku selalu, untukMu dan untukmu, duhai Cinta yang Mencintaiku dan mencintaiku, duhai Cinta yang kucintai dan kucintai, sepenuh hati. Jadikanlah CintaMu dan Cintamu untukku Cinta yang kekal, sehidup semati, sebagaimana Cintaku untukMu dan untukmu yang ingin dan akan kujadikan sebagai Cinta dunia-akhirat, Cinta sejati yang takkan pernah mati, selama-lamanya”.
Di Bawah Bulat Purnama Pembunuh Pekat di Jiwa,
Created by: Em Je on Sunday, June 5, 2011 at 4:36am

Tidak ada komentar:
Posting Komentar