Rabu, 22 Juni 2011

Seuntai Jawaban Untukmu, Cinta


Jikalau kau tanya benarkah aku benar-benar mencintai dan menyayangimu? Sungguh aku dililit kesulitan menyuguhkan keping-keping jawab penuntas tanyamu. Namun andai kau bertanya pada hatiku perihal kebenaran rasa cinta dan sayangku padamu, maka inilah sebaris kalimat penebas tanya yang menjejak benakmu itu:

“Tanpa kusadari muasalnya, tiba-tiba rasa aneh ini mengendap di kedalaman palung sukmaku. Meski kala  itu, segalaku meragu tentang nama sebuah rasa yang kurasakan aneh ini. Tetapi, sehaluan waktu yang tak jemu melaju maju, akhirnya jiwa ini menerka-nerka tiada henti tentang rasa yang kian hari kian lincah menari-nari. Gemparkan panggung sanubari. Perlahan tapi pasti, terkaan ini semakin menguat sekuat karang di lautan meski dihantam amukan ombak bertubi-tubi. Pada akhirnya, di bawah benderang cahaya purnama kelima ini, terkaanku menjelma bulatan rasa yakin; bahwa sebentuk rasa di kedalaman nurani yang mengalir dan bermuara pada hatimu adalah Cinta berlapis Kerinduan. Beraroma harum kuntum-kuntum Kasih-Sayang. Bermekar jelang fajar melingkar. Terhujani titik-titik emas penghias kanvas langit malam”.

Selanjutnya, andai benar kau benar-benar dihimpit dahaga rasa ingin tahu perihal musabab lahirnya rasa cinta-kasih dari rahim hatiku di bumi hatimu, maka inilah setetes embun kata penyirna kerontang yang membentang pada kerongkongan pikirmu: “Aku mencintai dan menyayangimu bersebab kelembutan dan ketulusan yang erat melekat, selimuti sekujur jiwamu. Walau tak jarang segalaku mencoba merobek dan mengoyak selimut sutera pembalut halus jiwamu itu, namun tak jua helaian berharga kau punya itu robek, terkoyak berontak jiwa labilku yang kerap kali berguncang di kala angin pilu terlalu kencang membelai galauku. Sejujurnya, sepanjang kelana jiwa susuri jalanan dan gurun bermandikan duri dan ranjau menuju Muara Suci Cinta, baru kali ini kutemu sebuah muara hati berisi hamparan bening dan suci Cinta. Yaitu muara hatimu, duhai Cinta.”

Beranjak pada tanya ketiga, tentang kebersediaanku menerima segala rupa keadaan dan kondisi segalamu. Bila segalaku dilempari puing-puing tanya tentang segala sesuatu berupa perihal kebersediaan tuk kehidupan masa depan, terus terang lahir-batinku diserang bimbang. Mungkinkah segalaku akan mampu menjaga dan memelihara selamanya setia di dada atas cinta yang telah sekian masa kita bina berdua? Akankah segalaku bisa menerima segala bentuk kondisi dan suasana yang mengarah dan singgahi singgasana cinta kita? Apakah sempitnya hatiku bisa menjelma lapang, ketika badai prahara dan mara bahaya tanpa kompromi datang menerjang? Mampukah aku menggapai angkasa harap, tuk memetik matang buah ketululusan, mencecap manis rasa buah keikhlasan seutuhnya. Kala kudapati keterpurukan dan keadaan terburuk menubruk segalamu? Saat kusaksikan segalamu ambruk dihempas hembusan nestapa dunia? Sungguh, segalaku diserbu serdadu keraguan tentang remangnya kemungkinan jawaban di benakku ini. Aku hanya mampu mengucap “Insya Allah” atas tanya ketiga yang teramat berat kuangkat sekerat jawabnya ini. Maafkan aku, Cinta. Hanya kata “Insya Allah” yang dapat kuucap sebagai pelebur tanya ketigamu itu. Insya Allah, aku dan segalaku akan berusaha sebisa dan semampuku tuk berlapang dada, menerima segenap bentuk suasana dan keadaan terpahit di masa depan. Masa depanku bersamamu. Masa depanmu bersamaku. Masa depan kita, bersama dalam Cinta”.

Melompat pada tanya keempat, mengenai harapan dan keinginan yang berjejal di benakku yang terkait dengan jalinan Cinta Kita, kini dan kelak. Barangkali segenap harapku serupa dengan semua harapmu tentang ke mana dan bagaimana arah-langkah Cinta Kita kini hingga nanti. Yaitu, kepadaNya kupanjatkan bertingkat-tingkat harap suci dalam khidmat munajat: “Ilahi, taburkanlah serbuk-serbuk suci restuMu pada Cinta Kami, selalu. Guyurlah Cinta Kami dengan bening derai-derai rinai ridhaMu, saban waktu. Jadikanlah Cinta Kami Cinta Suci yang tak pernah lupa dengan keagungan CintaMu. Karena, tanpa CintaMu Nan Maha Agung, takkan pernah terlahir Cinta Kami dalam keabadian Cinta padaMu”. Dan begitu pun dengan segenggam inginku, mungkin nyaris tiada beda dengan sederet inginmu terkait hubungan Cinta Kita kini dan nanti. Yakni, kepadaNya jua, kuadukan segenap inginku dalam sebaris suci do’a: “Duhai Allahku, dengarlah rintihan jiwa hambaMu ini. Alangkah indahnya kebahagiaan yang Kau curah sedemikian melimpah-ruah, begitu sejuk mengguyur dan menyuburkan Cinta Kami. Ingin rasanya kebahagiaan ini kekal, abadi. Ingin rasanya, kebahagiaan ini tiada henti menepi. Menghujani Cinta Kami yang tak lepas dari curahan hujan Cinta kepadaMu. Dan betapa sejuknya kedamaian yang Kau endapkan di jiwa kami begitu segar, tiada terperi. Kuingin, kesejuk-segarannya permanen. Tak pudar dilumat terik-sengat cuaca semesta di kala sang Surya terlalu lebar tersenyum, menebar sinar. Pun tak luntur dijilat pekatnya gulita kala paras Rembulan temaram, mengelam, terbalut kabut, bahkan terbungkus lapisan gerhana. Inilah sederet harap dan inginku atas Cinta Kami dalam naungan CintaMu, duhai Tuhanku. Semoga takdirMu menghendaki segenap harap-inginku mewujud, menjelma realita gempita nyata bagi Cinta Kami, Cinta dalam naungan CintaMu. Cinta Suci bertabur keridhaanMu, dunia-akhirat”.

Usai jelajahi empat titik tanya yang berderet di sepanjang benakmu, akhirnya sampailah aku di titik kelima tanyamu, yang barangkali bersinambung tiada ujung. Sesungguhnya, di relung pikirku pun, berjejal puing-puing tanya yang serupa dengan serpihan-serpihan tanya penghuni ruang benakmu. Karena itu, setelah tuntas nuraniku menebas deretan tanya yang berbaris membentuk himpunan keingintahuanmu seputar perihal Cinta kita, kuingin menyuguhkan pada hatimu sekerat demi sekerat tanya yang serupa, serasa, dan searoma dengan sejumlah keratan tanya yang kau hidangkan tuk kulahap sampai suapan terakhir. Hehehe…

Bila kau tanya perihal apa-apa yang tak kusukai pada diri dan segalamu, maka sebelum dan sesudah kujawab grand final episode pertama tanya di panggung nuranimu ini, kuucap seribu “maaf” andai sebaris jawabku tak berkenan, bahkan menorehkan luka di lembut jiwamu. Maafkan segalaku, bila untaian kataku terlalu tajam melebihi pangkal sembilu. Maafkan aku, Cinta.

Entah dari mana harus kuawali menjawabnya. Yang jelas, ada setumpuk rasa tak enak kerumuni benakku saat hendak kusebutkan sederet ikhwal lahir-batin yang tak kusukai dari makhlukNya yang bernama laki-laki. Khususnya ikhwal yang melekat pada sekujur jiwa-ragamu. Hehehe… Barangkali akan lebih enak di hatiku juga hatimu, bila kusebutkan kebalikan dari objek yang tertanyakan. Semisal tanyamu seputar ikhwal yang tak berkenan bagi diri dan segalaku, maka alangkah lebih baiknya jika kuutarakan seputar ikhwal yang berkenan bagi diri dan segalaku pada diri dan segalamu, Cinta. Dan semoga penuturanku tentang hal-hal yang kukagumi dari sesosok pria idaman wanita, khususnya aku pribadi, akan menjawab tanyamu tentang hal-hal yang menjadi kebalikannya. Hehehe… Izinkanku tuk tersenyum sejenak, sebagai penghilang rasa tegang yang bersarang di kalbuku ya, Cinta… hehehe… Hmmm… Entah kau kan mengizinkannya atau tidak, nyatanya bibir sanubariku kini tengah asyik melenggok kanan-kiri, mengembangkan lebar-lebar kuncup kelopak senyumku… Hehehe…

Bismillahi ta’ala kumulai menghimpun kata-kata. Kurakit sedikit-demi sedikit, berharap melahirkan bukit padat kalimat. Sebagai penghapus karat yang tergurat di jiwa kita, Cinta. Sebagaimana yang sebelumnya  pernah kuungkap padamu entah lewat goresan kata yang kutuliskan atau pun kulisankan, bahwa aku dan diriku yang banyak memiliki kekurangan dan kelemahan lahir-batin ini mengidolakan sesosok pasangan hidup yang berkriteria sebagai berikut:

Fisicsly:
1.    Rapih dan resik, dalam arti selalu berusaha menjaga dan memelihara sekujur raganya dari bercak-bercak noda dan aroma yang tak bersahabat dengan indera penglihat dan pencium lahirku. Hehehe…
2.   Menghindari penampilan atau gaya yang menyerupai Mbah Dukun dan Preman Gadungan (Biar ku mampu bedakan mana pangeran hatiku, mana yang bukan kekasih hatiku. Hehehe…
3.   Menjauhkan diri dari asap rokok, karena paru-paruku enggan berkawan dengan semerbak bau asap rokok. (Bahkan hidungku lebih memilih asap yang terlahir dari pemanggang sate daripada asap yang meluncur dari batangan rokok yang dikulum bibir laki-laki). Xixixixixi…
4.   Tidak meniru gaya Buaya Darat, di mana wajahnya mengganda. Bahkan multi wajah di depan sejumlah wajah wanita. Huahahahaha…

Psicisly:
1.    Berjiwa lembut melebihi halusnya helai kain sutera. Dalam arti memiliki jiwa pencinta dan penyayang yang mampu meredam dan memadamkan segala bentuk bara yang tengah berkobar lincah pada tungku hati sang belahan jiwanya. (Semisal bara nestapa, bara lara, bahkan bara amarah yang merah menyala sekalipun itu). Hehehe…
2.   Berjubah kejujuran, bercadar ketulusan. Dengan kata lain, segala yang diucapkan seirama dengan yang diaplikasikan di lapangan. Hehehe…
3.   Romantis. Dalam arti mampu menyuguhkan hidangan keindahan bagi mata batin sang bidadari hatinya. Entah dalam rupa untaian rupawan kata-kata tertulis atau terlisankan. Maupun dalam bentuk isyarat indah tingkah (bahasa tubuh). Hehehe…
4.   Memelihara setia di atas satu Cinta dalam sepasang hati yang tlah menyatu-padu, bernaung di dalam naungan CintaNya. Dengan kata lain, senantiasa menjaga dan memelihara kesucian Cinta di dalam hati kekasih hatinya seraya tak lepas berdzikir, mengingat keagungan Cinta Hakiki Sang Maha Mencinta, bahwa tiada Cinta Seagung CintaNya pada segenap makhlukNya. Maka sepatutnya, kita sebagai makhluk yang dicintaiNya sepenuh Cinta, membalas CintaNya, dengan mencintaiNya sepenuh Cinta pula, mencintai apa-apa dan sesiapa yang dicintai dan mencintaiNya sepenuh Cinta.
5.   Pengertian dan penuh perhatian. Dalam arti mengerti dan mau memahami suasana jiwa-raga sang kekasih hatinya, dengan senatiasa bersedia selalu membaca dan mengeja makna yang tersurat pun tersirat pada tutur-tingkahnya. Menerjemahkan senyum dan tawa yang terlahir dari kelopak bibirnya. Menyelami air mata yang berderai genangi hamparan pipinya. Bahkan turut pula belajar menyukai hal-hal yang disenanginya, selama hal-hal tersebut berada sejajar dengan koridor Tuhan.

Barangkali inilah seuntai jawaban yang bisa kusuguhkan. Sebagai penuntas lapar dan dahaga rasa ingin tahumu terkait hubungan Cinta Kita, kini dan kelak. Semoga lambung jiwamu mampu mencerna selembut-lembutnya, hidangan sederhana jawaban yang ditanak benakku ini. Dan mudah-mudahan keratan-keratan jawabanku ini mampu mengenyangkan, memuaskan mulut jiwamu yang sedari kemarin-kemarin lebar menganga. Xixixixixi…

Donald bebek berbulu angsa
jangan dirobek sebelum tuntas dibaca….

Di Bawah Hangat Atmosfir Pagi Ciputat
Created by: Em Je on Tuesday, June 14, 2011 at 8:43am


Tidak ada komentar:

Posting Komentar