Senin, 23 Mei 2011

Kami Merindumu Selalu, Duhai Ayah


Sungguh, mataku telah tertimbun kantuk
memintaku tuk bersegera
membenamkannya
di atas "ranjang kesunyian" ini
namun, jiwaku masih enggan
menghentikan lajunya
dalam kembara panjang
menuju wajahmu;
wajah yang selalu kurindu
saban waktu
duhai engkau yang tlah berada
di Taman Firdausi
duhai ayahku tercinta

Rasanya terlalu dini engkau pergi
tinggalkan kami semua
tinggalkan bidadari hatimu
tinggalkan buah hatimu
tinggalkan keluarga bahagia kita
tinggalkan kenangan indah bersama

Rasanya terlalu sulit bagiku
menemu separuh ikhlas itu
setelah kudapat dengan susah-payah sebagiannya lagi
dengan barisan waktu
yang tlah memapah langkah kaki
tuk terus lanjutkan safari hidup
meski cahaya di hati
kerap meredup
tertampar semilir angin lara
kencang bertiup

Betapa hati ini kian perih
bila kuingat hari minggu kelabu itu
hari di mana adaku
terbentang dari adamu
hingga ku tak sempat
melihat senyum terakhirmu
melihat binar pada beningnya matamu
karena saat kusibak tirai jarak itu
kau telah tertidur lelap
di atas pembaringan Ilahi
tuk selama-lamanya

Alangkah hancurnya jiwaku
di malam pekat bergenang air mata itu
air mata kepedihan
hujani rumah kita
rumah yang kau bangun
dengan cucuran peluh
rumah tempat kita berteduh
dari derai hujan dan sengat sang surya
rumah sederhana
nan hangat, berbalut canda-tawa

Selepas kepergianmu
Rrasanya jarang kudengar
canda-tawa membahana
semarakkan rumah kita
rasanya tak jarang kusaksikan
lelehan air mata
deras mengucur
membasuh dan membasahi
hamparan pipi bunda,
pipiku, juga pipi si bungsu

Ayah…
berbahagialah engkau di sisi-Nya
di sini, kami selalu merindumu
sampai ketemu lagi, nanti
di surga-Nya
amin, ya Allah ya Robbal alamin

We miss you, forever...
Hickz...hickz...hickz...

Ciputat, 16 Maret 2011 (02.12 WIB)
Created by: Em Je

Tidak ada komentar:

Posting Komentar