Tak biasanya di separuh perjalanan hari
tak tampak terik mencekik
kerongkongan para pencari arti hidup
justru yang menjelma di pelupuk jiwa
adalah gumpalan kabut pekat mencair
berderai lembut membasuh kalbu
Hawa sejuk tak jemu membujuk
merayu benak memetik kuntum senyum
mengintimkan pikirku
dengan pemilik sebuah nama yang kurindu
Adakah jantungnya berdegup lebih kencang?
diguncang tiupan angin rindu
dari arah pantai asmara
sebagaimana di ruang teduh jiwa ini
menggelegar jeritan kegundahan
jeritan penantian sua perdana merambah kenyataan
Di Bawah Rinai Gerimis, 5 Mei 2011 (12.27 WIB)
Created by: Em Je
Tidak ada komentar:
Posting Komentar