beroleskan pijar-pijar gemintang
serentak berjajar
tiada setitik awan hitam
nodai paras rupawan sang bulan
elok nian rekah senyummu di tepi malam
duhai engkau sang pemilik cahaya cinta
cerah, menawan
Duhai purnama cinta
betapa pesona ronamu
tak mampu kulukiskan dengan untai kata
apalagi dengan bait puisi
entah kau sadari atau tidak
kau telah mengubah sayu di mataku
menjadi binar
bahkan, mungkin kau pun tak merasa, bahwa
dengan pancaran aura memikatmu
kau jadikan malam muramku
cantik berseri
kau buat pekat di langit hatiku
jauh berlari
kau semaikan kilau-kilau bahagia
di bumi sanubari
kau tumbuhkan benih-benih kemenangan
di ladang hati
kau taburkan pupuk kasih-sayang
saban hari
suburkan jiwaku nan gersang
di musim semi
Duhai purnama cinta
sejatinya engkau adalah pelita sukma
penyirna gulita
pembawa gempita
sejatinya engkau adalah sinar jiwa
pelepas gelap rasa
penggenggam kerlip asa
yang gemerlapnya berpendar, indah
pada setetes madu rindu
lumuri kalbu
dahaga tercekik pilu
Karawang, 21 Desember 2010 (03.04 WIB)
Created By: Em Je
Tidak ada komentar:
Posting Komentar