Duhai angin malam, tahukah kau? Betapa semalaman ini hatiku basah, tergenang bulir-bulir gelisah. Ingin rasanya aku berkesah padanya, namun malam ini ia tak menyetor wajahnya di hadapku. Bahkan sepucuk surat berisi tentang cinta dan kerinduannya padaku pun tak ia titipkan pada lembut semilirmu. Untungnya masih ada kau yang selalu dan melulu setia tuk mendengar keluhku, juga kesahku. Terima kasih kuucap untukmu, duhai pelebur gerah di jiwa.
Kepadamu, ingin kukisahkan perihal pengembaraan ingatanku menyusuri gurun kesunyian. Adalah aku terduduk seorang diri di atas lantai beralas keheningan. Termangu pilu. Menatap buram angkasa malam. Tak tampak bintang gemintang menghampar, menghias paras malam. Tak jua rembulan menebar sinar, leburkan pekat yang kian menebal. Tak terasa, tetes-tetes bening berderai. Banjiri belantara pipiku. Bahkan saking derasnya linangan air bening itu hingga menyebrangi hamparan leherku. Terhanyut aku dalam isak yang sesakkan dada. Tenggelam segalaku dalam tangis yang mengiris ulu hatiku. Ada semacam rasa perih menindih sukmaku. Rasa perasaan yang aneh. Menggebu. Mengguncang palung kalbu. Entah apa namanya. Barangkali rindu. Itulah tebakanku.
Benarkah muasal bermacam rasa aneh ini adalah rindu? Entahlah, aku pun awam memaknai rasa perasaanku sendiri. Lantas bagaimana aku akan gamblang mengetahui perihal rasa perasaannya terhadapku, sementara menerjemahkan muasal kegelisahanku sendiri saja aku dililit kesulitan. Tapi aku tak tahu apakah ia bisa turut merasakan keanehan rasaku atau tidak ya? Hanya dia, Dia dan malaikat-Nya yang tahu.
Letihnya mata ini memintaku bersegera mengistirahatkannya. Di atas pembaringan lembab sunyi. Namun hatiku merintanginya. Ia memberontak ricuh. Tak restui mataku tuk mengatupkan kelopaknya barang sejenak saja. Ada sebentuk gemuruh mencipta gaduh di kedalaman batin ini. Jerit lirih membahana. Mengamuk tiada terkira. Menggelegar hebat. Memecah telinga semesta malam. Sebut saja jerit rindu. Begitu kumenamainya.
Dalam keterjagaan, akhirnya mata dan hatiku menuai kesepakatan. Tuk berjalan beriringan. Lewati bentangan malam hening. Hingga fajar menyingsing. Keduanya bersafari. Menyibak kabut sunyi. Memijaki jalanan sepi. Hingga pada suatu jarak tertentu, langkah keduanya terhenti. Tercegat sebentuk remang bayang yang perlahan gamblang di pelupuk pandang. Tak salah lagi, bayang tersebut tiada lain tiada bukan adalah bayang wajah yang kurindui. Wajah rupawan bercadar senyum mekar, berseri. Wajahmu, duhai engkau, sang perenggut malam-malamku. Hingga kerap kali tak kuasa kumenatap dan memandangi wajah mentari pagi. Menjemur ragaku di bawah hangat atmosfir pagi.
Gurun Kesunyian, 3 Mei 2011 (05.08 WIB)
Created by: Em Je
Tidak ada komentar:
Posting Komentar