Senin, 23 Mei 2011

Derai Damai


Entah ini kali keberapa suaramu yang dihantar udara merasuk gendang telingaku. Kurasakan ada sesuatu yang beda antara kekuatan suaramu malam ini dengan daya suaramu sebelumnya. Pertama kali suaramu yang disampaikan angin malam pada indera pendengaranku, kurasakan teramat biasa saja, tiada terkandung di dalamnya kehangatan dan ketulusan yang menabur rasa damai di jiwa. Namun kali ini, sungguh kurasakan suaramu tak sekedar menuang kedamaian di hatiku, namun kehangatannya melebihi syahdunya kidung rindu yang tengah mengalun lembut, menenggelamkan kesunyian yang bertahta di palung sukmaku. Ada irama kemesraan yang tertahan di kerongkongan ruhaniku, sebagai respon penyambutan hangat sapamu di ujung letihmu, usai kau tunai segala bentuk aktivitas harianmu,  yang tlah menyedot habis energi penyangga lahir-batinmu. Barangkali kau ingin tahu mengapa irama kemesraan yang hendak kuperdengarkan pada telinga batinmu itu bisa tercekal, tertahan di kerongkongan? Bila kau tanya demikian, inilah jawaban hatiku sebagai penebas tanda tanya yang berdiri tegak memijak benakmu; “Karena aku tersipu, dan itu sebabkan lidahku membeku, kelu”.

Tidak banyak perihal yang kita bahas kali ini. Sekedar masalah seputar cinta masa lalumu dan harapan tulus masa depanmu. Aku menjadi penanya sejati pada bincang ringan kita—namun penuh keseriusan— malam ini. Dan kau pun menjadi penjawab yang bijak tentunya, atas segala tanya yang berderet, jejali benakku. Aura kejujuran merekah. Kucium harum aromanya sepenuh khidmat, seraya menggumam lirih dalam batin; “semoga apa-apa yang kau ucap dan kau ungkap padaku adalah murni suara hatimu nan putih, suci. Bukan gombalan murahan yang kerap diobral Play Boy Cap Gajah kepada sejumlah gadis yang dianggapnya lugu dan polos, yang mudah ditipu dan dikelabui”

Sejujurnya aku telah sampai pada titik jemu, bertemu dengan sejumlah sosok yang kusebut dengan Play Boy Cap Gajah, yang tak jengah memperlakukan sejumlah gadis sebagai boneka mainan, yang bisa dipermainkan sesuka hati. Eits, maksudku sewenang-wenang. Karena menyebut-nyebut soal hati, apakah yang kunamai PBCG itu memiliki hati nurani? Bukankah mereka tuna rasaperasaan? Maafkan bila ku terlalu kejam menganggap mereka sedemikian keji. Dan yang terpenting kau bukan bagian dari species mereka ya, duhai sang pencinta di antara kerumunan pendusta... Bersebab aku begitu yakin bahwa kau pun mengerti bagaimana rasanya bila kerikil-kerikil kebohongan dan dusta merajam hatimu. Menghunjam tajam ke jantungmu. Sakit dan perih bukan?

Hehehe… Maafkan aku, duhai engkau pemilik kelembutan hati. Amarahku memerah tiba-tiba. Menyala. Bila kumengingat-ingat lagi perilaku beringas buaya-buaya darat yang berkembang biak di dunia maya pun dunia nyata. Ah, sudahlah. Biar kemarahan ini kupadamkan saja, khawatir jiwaku akan hangus, menjadi abu, bila terbakar bara kebencian yang panas dan ganas mengunyah hati dan perasaan.

Berhubung letih telah menubruk jiwa-ragamu setelah seharian mejamah tumpukan tugas dan kewajibanmu, jadi kita tak bisa berlama menderaikan bulir-bulir canda dan tawa dari bibir kita. Sungguh, aku tak tega membiarkanmu lebih lama menunda pembenaman matamu di ufuk hatiku, eits salah ucap, maksudku di pembaringan empuk malam. Hehehe… Ya sudah, tak berselang lama, kurelakan suara merdumu (eits jangan ge er yawww…) padam seiring ucapan salam penutup di ujung telepon sana.

Selamat tidur, duhai sebuah nama pendamai jiwa, mimpi indah semoga senantiasa merekah, sebagai bunga penghias tidurmu malam ini. Semoga esok hari kau saksikan lagi senyum mentari pagi berseri, hangatkan gigil sanubari…

Ruang Benderang Cahaya Rindu, 6 Mei 2011
Created by: Em Je

Tidak ada komentar:

Posting Komentar