Minggu, 22 Mei 2011

Sunyi Masih Meringkus Jiwaku

Siang ini mata langit masih tampak sembab
derai-derai air beningnya pun terus berhamburan
dan suaranya bertubrukan
berangkulan dengan alunan
syahdu-merdu kidung rindu
yang tak henti menggema, riuhkan palung kalbu

Samara-samar nyanyian pilu tekukur dan perkutut
merasuk telingaku
seolah mereka turut terhanyut
bersamaku
di dasar lautan lara, nan biru
bersebab tak kuat
memikul gundukan rindu
kepada ia yang membawa separuh jantungku

Entahlah...
mampukah aku segera menepi
di tepian pantai bahagia
nan semarak oleh debur ombak kemenangan
penampar sepi
pemecah hening
perobek sunyi

Duhai langit siang
yang terisak pilu
di penghujung Oktober kelabu
ledakkanlah isak pilumu itu
hingga menjelma
gelegar tangis bahagia

Riuhkanlah dunia
ramaikanlah jagad raya
usirlah sepi
yang mencekam hati
musnahkanlah hening
yang memasung sukma
lenyapkanlah sunyi
yang masih saja setia
meringkus jiwa

Ciputat, 30 Oktober 2010 (14.39 WIB)
Created by: Em Je

Tidak ada komentar:

Posting Komentar