Senin, 23 Mei 2011

Terjengkang dalam Jurang Asmara

Entah bagaimana signal-signal cinta itu merambat
tiba-tiba saja seisi relung jiwa ini terjerat
kuatnya hasrat yang mencuat
dalam senda-gurau hangat
bernuansa bait-bait syair asmara, memikat
secepat kelebat kilat
membelah pekat

Gemetar sungguh gemetar
hati ini bak mendengar amuk halilintar
pada rona jingga senja, indah berbinar
paruh warasku memudar
ditelan gejolak rasa yang menyambar
rasa aneh di dada, gencar berdebar

Keraguan perlahan mengendap
genangi kawah jiwaku hingga meluap
hujan tanya pun mengguyur hampar benak, panas berasap
perihal desir rasa yang menggelora di ujung senyap

Ramah tutur-sapa jiwamu damaikan ruang hati
Lekat-hangat tatap mata batinmu teduhkan terik sanubari
rekah sekuntum senyum indahmu bubarkan  gundah  nan lincah menari
gemparkan panggung sunyi

Sesunggungguhnya apa yang tengah mendera
gerayangi kalbu di batas lara

Adakah aku tengah terjengkang
terjatuh dalam dangkalnya jurang
jurang asmara bergenang kasih-sayang
pada dia sang pemilik paras hati terang berpijar
yang kelembutan jiwanya berpendar
di atas mekar sekuntum senyumnya, berseri
hiasi barisan hari
yang ku lalui
ku lewati
mulai Januari
hingga Desember menepi
tahun demi tahun berganti
selamanya, sampai mati
sampai hidup kembali
di alam nirwana, abadi

Anggrek 2, 17 Januari 2011 (12.42 WIB)
Created By: Em Je

Tidak ada komentar:

Posting Komentar