tak pernah engkau mengeluh
menjinjing berat
saat kubernaung di laci suci rahimmu
nan begitu hangat
hingga purnama ke sembilan
menatapmu lekat
Engkau karuniaiku
kejutan istimewa ke dalam jiwa
tuk bisa kumemandang
selaksa pesona ruang
yang lebih luas menghampar
tuk bisa kumendengar
alunan nada dan irama
nan merdu dan beragam
tuk bisa kumencium dan mengulum
rupa-rupa aroma
semerbak harum
tuk bisa kumeraba
lapisan-lapisan kebahagaiaan
yang beraneka
tuk bisa kumencecap dan mencicip
lezatnya hidangan kehidupan
yang tersaji
Ibu…
dengan segenap tulus dan ikhlas
kau rawat aku penuh guyuran cinta
kau jaga aku penuh kucuran kasih-sayang
kau tuntun aku susuri jalan berliku
menuju ridha Tuhan Yang Satu
kau pandu langkah kakiku ini
menuju terminal suci ilahi
Ibu…
kaulah guru perdanaku
paling berjasa
memperkenalkan padaku
tentang nama-nama
mengajariku
santun bertutur-sapa
dari mulai kata “mama”
hingga berjuta kata bermakna lainnya
Ibu…
tak pernah secuil pun
kau mengharap balas
atas limpahan jasamu
sepenuh tulus-ikhlas
atas hujan pengorbananmu
yang tak pernah tuntas
tak kenal musim dingin
pun musim panas
Sejatinya engkau adalah pecinta sejati
buah hatimu saban waktu
meski terkadang, bahkan kerap
dengan atau tanpa sengaja
belahan jiwamu
ciderai sanubarimu nan mulus
melebihi lembutnya kain sutera
begitu halus
Ibu…
maafkan anakmu
yang terlampau sering menyusahkanmu
di kala sehat, apalagi sakitku
di kala mudah, apalagi sulitku
Ibu…
lautan do’amu
tak henti kudamba
samudera kasihmu
tak bosan kuharap
sepanjang usia
sepanjang masa
Ibu…
maafkan anakmu
yang melulu merepotkanmu
ketika senang, apalagi sedihku
ketika senyum, apalagi tangisku
Ibu…
lautan restumu
tak jemu kupinta
samudera ridhamu
tak jengah kumohon
seumur hidup dan matiku
Ibu…
terimakasih kuucap
atas segala hadiah istimewamu
takkan pernah bisa terhitung
oleh ukuran apa pun
terimakasih kuucap
atas semua anugerah terindahmu
takkan pernah bisa terbalas
dengan gelimang materi
semewah apa pun
Ibu…
terimakasih kuucap
atas bendungan cintamu
yang selalu deras mengalir
menujuku dan segenap muara milikmu
terimakasih kuucap
atas mata air kasihmu
yang tak pernah surut
meski musim kemarau
tiba menjemput
Karawang, 19 Desember 2010 (02.52 WIB)
Created By: Em Je
Tidak ada komentar:
Posting Komentar