entah angin mana
yang meniupkan bayang rupawanmu
ke arah ufuk hatiku
tiba-tiba saja
kudapatimu dan segala tentangmu
lincah menari-nari
silaukan pelupuk kalbu
kutanya dedaunan
yang tak jemu melambai-lambai, manja
adakah angin buatmu energik berdansa
adalah angin serupa
dengan angin yang t’lah menghempaskan dia
ke rumah hatiku, saat ini?
Mendengar lembut bisik tanyaku
helai-helai hijau itu pun mengangguk sejenak
sesaat kemudian menggeleng
memberiku isyarat “kemungkinan”
bukan “kepastian”
Dalam kejapan waktu
aku pun tercenung, termangu
dalam dekapan kebimbangan
Sederet tanya berdesakan
jejali pikir, berbenturan
memintaku tuk bersegera
memerdekakannya
mengeluarkannya
kosongkan benak nan pengap
Mungkinkah?
mungkinkah pelakunya serupa?
mungkinkah angin yang memicu
lembar-lembar mungil hijau itu
melenggok setengah tersipu
adalah angin yang sama
dengan angin yang menjadikan bayangmu dan segalamu
kuat berdansa dengan ingatanku?
Lantas apa nama angin itu?
angin asmarakah?
di mana kediamannya?
di istana cintakah?
Apapun namamu, duhai angin
ku tak peduli
di manapun persemayamanmu, duhai angin
ku tak hirau, sama sekali
yang pasti
kumendamba sepenuh harap, padamu
Duhai angin
kemarilah
mendekatlah
menepilah padaku
sampaikan pesan cintaku
antarkan pesan rinduku
padanya seorang
yang kini tersekat ruang
terlempar jarak, jauh membentang
namun ia dan segala tentangnya
begitu dekat
bahkan teramat melekat
di relung hatiku, sepanjang hayat
Anggrek 2, 13 Desember 2010 (23.23 WIB)
Created By: Em Je
Tidak ada komentar:
Posting Komentar